Jumat, 14 Oktober 2011

life (and love?) through my glasses

Through my glasses, hidup cuma suatu bentuk games yang terbagi jadi beberapa stages. Di tiap stage-nya, kadang kita menang, kadang kita kalah, atau kadang kita hanya mendapatkan fair score. Bedanya, kekalahan nggak akan mengakibatkan permainan itu berakhir. Itu hanya membuat kita jadi punya sedikit modal untuk melangkah ke stage selanjutnya.
You know, seperti jenis spesifikasi mobil yang bisa kita gunakan di car race games. Kalo kita masuk ke level yang lebih tinggi dengan score yang minim, jenis mobil yang bisa kita gunakan terbatas pada mobil dengan spesifikasi yang nggak canggih. Dari segi speed, brakes, sampai modelnya.

Here's the real sample. Seperti kalau kita lulus SMP dengan nilai ujian yang nggak terlalu tinggi. Kita masih bisa lanjutkan pendidikan ke SMA, tapi nggak bisa memilih dengan bebas. Karena, for sure nilai kita terbatas dan nggak semua passing grade di SMA yang kita minati bisa tertembus.
So, at the end, kita hanya bisa masuk ke SMA di level menengah.

Perhaps at love side juga begitu.

Fate makes us like this. I mean. Kalo dari saya, ya.. Tinggi badan pas pasan, wajah pasaran (saya sering disebut mirip A, B, C.. And luckily bukan seleb ya) warna kulit sawo terlalu matang. Dan keluarga kelas menengah pekerja yang hidup benar-benar bersumber dari jerih payah keringat sehari-hari.

Dan saya sering have a crush on someone yang secara strata dan tampilan fisik berjarak dibanding saya. So.. Dengan fair score yang saya punya, kayaknya mimpi banget buat mendapatkan cowok-cowok yang saya taksir itu.

lalu, kalau hidup (dan cinta?) cuma sekedar bentuk permainan, yang pegang joysticknya siapa?
IMO, ya kita sendiri. Hanya, kreator dari games itu adalah Tuhan. Dia yang menaruh kesempatan disini, atau keberuntungan di sisi sana sehingga walau di suatu stage spesifikasi kita kurang, ada kemungkinan kita masuk ke stage selanjutnya dengan score yang lumayan tinggi.

Mungkin cinta juga begitu.
Kalau dengan cowok-cowok lebih kaya dan cakep itu nggak bisa kita miliki, mungkin di suatu sudut entah di stage apa, Tuhan sudah menempatkan 'the one'. A special person khusus buat kita. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. He would complete us. Complete me.

".. dia, untukku adanya, tak akan aku sesali. Cinta tak akan salah." -Kahitna, aku,dirimu,dirinya.

One day, kan, ya Rabb ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar