of dreams | of life | about love | of bitter reality | of hopes and wishes | about you. Yes, you.
Rabu, 11 Juni 2014
what's in a name..
Senin, 02 Juni 2014
hey, june...
Sabtu, 26 April 2014
i should've known
Kamis, 16 Mei 2013
indrayanti, suatu hari..
I thought it might not gonna happen soon, me travelling again to Yogyakarta. But, it happened actually.
Jadilah, akhir April, dengan modal seadanya, saya meluncur ke Jogja.
To be honest, there’s something familiar about Jogjakarta in my eyes. Which i always wonder what it is. The heat? Becak-becak? Aroma kultur keraton yang kuat? Atau aura lain tentang kota ini yang sukses membuat saya kerap rindu untuk kembali.
Pada trip ‘maksa’ kali ini, saya diajak Sita mengunjungi pantai Indrayanti. Salah satu sisi cantik dari beberapa lainnya di garis pantai Gunung Kidul.
![]() |
| Tepus, Wonosari. |
I knew about these beaches from the last pages of Tasaro GK’s novel : Galaksi Kinanthi. Yang salah satu latar tempatnya memang di daerah Gunung Kidul. Sejak baca novel itu, ingin rasanya menelusuri garis pantai Gunung Kidul : Baron, Kukup, Sundhak, Wedhi Ombo, Drini dll.
One step at a time, Ve.
We reached Indrayanti after 3 hours of motorbike ride.
Kelelahan yang langsung terbayar aroma matahari bertemu dengan lembut pasir pantai warna khaki. Mereka diterjang ombak nakal laut selatan yang galak dan nggak bisa diajak bercanda. Tapi ombak itu.. andai saya surfer pasti jejingkrakan lihat ombak besar bergulung-gulung cantik seperti itu.
| si karang lintah telungkup |
| maksud hati capturing ombak tapi apa daya amateur view ini yang tercapture, but, isn't it pretty? :) |
| Indrayanti, dari atas karang lintah telungkup |
| indrayanti, suatu hari.. |
Terima kasih, Sita, for this rare chance. And can’t wait for another unexpected trip or the opportunity to finally comeback here, someday. And explore other beauties from the Southern part of Mighty Yogyakarta.
A city that never fails to surprise me.
Kamis, 23 September 2010
that kind of love
Sabtu, 22 Mei 2010
The twilight is no longer vanilla, it's now shadowed-blue grey..
Fluktuasi mood.. yang berubah dalam hitungan detik. Yang hanya mampu terobati saat saya berjingkrak pelan sambil meneriakkan bait Tip of Iceberg.. mengikuti beat yang dibuat pahlawan saya yang baru : Adam Young. (ex pegawai Coca cola warehouse dari Owatonna yang sekarang berkesempatan menjelajah samudera sambil memperdengarkan nada dan melodi yang menemaninya di kala insomnia)
kembali pada senja..
Biru membayang dalam gumpalan keabuan yang terkadang menyala terang saat percikan listrik berbeda kutub berbenturan di angkasa.
Sampai.. Saya setengah mengerti kenapa di dunia ini terdapat profesi penjelajah petir, orang-orang jenius yang sedikit nggak waras yang kerjaannya nguber-uber kilat..
Trust me, yesterday's lightnings were awesome..
Seperti ranting bercabang bercahaya yang Tuhan jatuhkan dari langit, menghias gumpalan awan pekat dengan nuansa emas yang hampir membutakan..
Mahasuci Allah, Mahabesar Ia..
Dan senja yang biru keabuan itu tiba-tiba mengingatkan saya tentang kekurangoptimisan dalam hari-hari perjalanan hidup saya belakangan.
Terkadang saya sibuk menoleh ke seluruh penjuru, mencari bentuk terbaik dari hidup yang ingin saya jalani.
Tanpa peduli bahwa ada syukur yang harus dipanjatkan atas rezeki lain yang jadi tak kasat mata.
Maafkan saya Tuhan, ingatkan saya terus jika saya mulai ragu dan salah melangkah.
Dulu,saya pernah mengalami senja yang vanilla.. yang bersinar terang dan menentramkan hati. Menggambarkan optimisme yang membentang.. menawarkan euforia hidup yang bisa saya kecap dengan manis.
Tapi cahaya vanilla itu seolah meredup hari demi hari, meninggalkan guratan biru samar keabuan dan ancaman akan kegelapan.
Jauh dalam hati, saya tidak ingin itu terjadi. Bahwa saya akan terus terpuruk memandang senja yang kelam.
Saya ingin warna yang menentramkan hati itu kembali.
Dalam doa, senyum dan sebuah usaha..
Hari ini saya melihat seberkas rona merah jambu menggaris di batas cakrawala. Samar. Hampir tertutupi gumpalan abu-abu yang muram.
Saya harap itu pertanda, akan awal munculnya warna-warna baru yang akan datang perlahan menghiasi langit senja yang saya cintai.
Memulasnya hingga ia kembali vanilla..
dan bercahaya.
Senin, 03 Mei 2010
a teary confused monday : notes from dreamy stupid girl for super holy and awesome God
saya nggak jadi mencari kopi pagi tadi,mungkin kopi-kopi itu bisa saya gunakan lain kali.. Jadi hari ini saya berpuasa.
Mereka bilang saat sedang puasa,kita dianjurkan untuk tidak menangis karena.. Itu makruh,merupakan simbol luapan emosi,bukan pengendalian diri.
Tapi Allah swt adalah Tuhan yang Maha pengertian. Dia tahu apa yang terjadi. Pergumulan sengit di benak saya mirip genderang perang di Helm's Deep,yang sensasinya menggemakan dan memerihkan echo hingga ke ulu hati.
Jadi saya menangis siang ini..
Karena banyak hal. Amat banyak hal.
Saya tahu seharusnya saya tidak merasa terganggu saat orang kerap bertanya tentang pekerjaan.
Saya tahu bekerja.. Sebuah titel profesi adalah tuntutan,saat sekolahmu selesai,dan kamu resmi lulus.
Tidak,saya tidak menyalahkan mereka untuk rasa penasaran mereka yang tidak mau berhenti.
Saya hanya menyalahkan diri saya sendiri atas kebingungan dalam menjawab pertanyaan mereka.
Saya selalu mencoba untuk tidak menghakimi orang lain karena saya sendiri enggan dihakimi.
Saya hanya merasa tidak nyaman untuk membagi itu secara terang-terangan.
Saya ingin bilang,saya hanya ingin memilih sesuai kata hati. Saya ingin banyak membaca,menulis, mengamati dan mengetahui.
Mereka mungkin bilang saya tolol dan perlu dikasihani.
Bilanglah..
Karena saya sendiri ingin mengasihani diri saya sampai bisa memeluk,menenangkannya dan membuatnya menangis tersedu. Karena mungkin setelah itu.. Mungkin saja saya bisa tertawa lebih lepas.
*sigh*
saya terperangkap kebingungan kronis akan hidup saya sendiri. Dan saya punya support system yang sedikit tidak solid.
Saya hanya bisa mengandalkan hati dan logika..
Siapapun di antara keduanya yang kebetulan sedang mendominasi.
Saya butuh Engkau ya Rabb. Butuh sekali untuk menyibakkan pucuk-pucuk rumput tinggi nan ruwet yang menghalangi jalan saya.
Maafkan saya untuk menangis siang ini.
Tapi saya percaya Engkau adalah Tuhan yang sangat pengertian ya Rabbi...
picture taken from here
Minggu, 02 Mei 2010
sepanjang pelayaran saya bersama perahu kertas #1
Seperti mantra baru yang menggoda untuk terus dirapal dan dihafal,saya juga mengatakan hal yang sama seperti yang Keenan ucapkan, pada diri saya sendiri..
Lagi
dan lagi..
Senin, 26 April 2010
00.10
pekat menggulita
diiringi deru mesin
terbangkan debu
remang lembut melingkupi
figur ayah memeluk bayinya erat
aku terpesona
Rabu, 21 April 2010
Loveliness in laugh
scratching my throat
till then i'll cry rightaway
a sudden bleeding
crashing world
wanna laugh to laugh to cry
pathetic
Selasa, 20 April 2010
Jarak kadang menipu.. Kadang juga tidak..
Jejak di atas aspal yang mengeras,seperti awan--ia berarak, mengiring papasan jarak
aku coba mendekat
ke tempat kau berada sekarang
aku ingin kita melangkah ke satu arah yang sama
aku masih percaya pada keajaiban kecil sebuah kebetulan yang menyenangkan
jadi bila hati kita benar menyatu..
Kau akan tahu dimana harus mencariku
seperti aku tahu dimana harus mencarimu
karenanya aku mendekat memapas jarak
agar kita tak terpisah terlalu jauh
namun sia-sia
karena kita masih bisu satu sama lain
dan untuk kali ini,jangan salahkan jarak..
picture taken from here
Rabu, 14 April 2010
seperti mereka.. seperti dia atau seperti aku?
Aku selalu mendadak mengalami krisis kepercayaan diri saat melihat pencapaian orang lain. baik itu orang-orang yang kukenal, ataupun bukan.
Setelah melihat teman SMA ku live report di salah satu stasiun TV berita ternama nasional, aku selalu berpikir.. “Wow, that was my friend. We ran an organization together back then when we were in high school! Glad to know her prior..”
Well, well… kami nggak deket memang dan kedekatan yang tidak akrab itu hanya bertahan di sekitar organisasi. Di luar itu, hanya sesekali menyapa. Tapi tetap dong bangga rasanya melihat seseorang yang kamu kenal tampil di media informasi audiovisual dan ditonton orang se
Kecintaanku membaca agak terhambat saat aku lulus SMA karena supply pinjaman buku jauuhh berkurang secara drastis. Aku harus kerja keras jadi anggota di persewaan buku-buku dan aktif nyari kuis-kuis giveaway. Ha. Ha. Yah, superrpoor me! Dan kadang bila melihat deretan orang-orang yang dalam kamarnya terhias dengan beberapa deret rak dengan ratusan buku di dalamnya, kadang merasa.. yah, ingin seperti mereka.
Sekilas, aku ini seperti orang yang kufur nikmat sekali ya..
Di luar semua keinginan untuk menjadi seperti orang lain di bidang-bidang tertentu, aku pikir, aku cuma manusia biasa yang kebetulan dianugerahi banyak kekurangan oleh Tuhan. Dan oleh karenanya, aku sedang berusaha mencapai sebuah aktualisasi diri, menekan kekurangan itu dan mengubahnya jadi sesuatu yang mendorong aku menjadi seperti aku. Dengan sebuah label puas di dadanya.
Living the life that I desperately want to live in…
To be me..
So, what actually my plan for –let’s say—tonite?
Umm, seperti biasa, kayaknya. Membaca beberapa catatan lama, novel yang belum sempat terselesaikan, fanfiksi yang baru diupdate, atau menulis, like crazy all nite.
Karena selagi masih sempat, aku punya pikiran gila untuk bisa menyelesaikan BANYAK hal. I meant really A LOT.
Semoga tercapai. Semoga disukai. Semoga bermanfaat. Amin.
Terima kasih untuk inspirasi ini, ya, Rabb. Nggak bisa apa-apa tanpamu. Moga nggak blocking sampai disini.
Oh, dan sekali lagi Sitta Karina memberikan aku sesuatu : bahwa tidak ada ide yang benar-benar orisinal, yang berbeda hanyalah ‘touch’.
So make that touch lingers to me, dear God. Amen.
Minggu, 04 April 2010
persegi kelabu - sangtuari - atau tempat sembunyi
Ayah membuatnya jadi sebuah gudang khusus di atas atap untuk benda-benda lama yang masih memiliki kemungkinan untuk dipakai lagi. Dan sepetak ruang lapang terbuka didekatnya biasa digunakan sebagai tempat menjemur baju dan semacamnya. Tapi aku kadang menggunakannya untuk tempat menyendiri. Bersembunyi.

Cahaya alami yang menemani di atap loteng ini. Walau ada lampu tergantung, ia memilih mati

Buku-buku tua peninggalan zaman SD. Dan sisa-sisa buku bergambar Peter Pan dan Cinderella yang tersusun lapuk dan terhias debu. Sebuah pengingat akan masa kecil yang begitu putih. Aku heran mengapa warnanya sekarang mengelabu?

Red Plastic Knight yang merasa kesepian kala kubawa ke atas atap sebagai penjaga ruang rahasia. Ia menginginkan pendamping. Tanpa izin adik terkecil, aku ambil Pavlov kuning dan Toyota plastik kuning dan sesosok ninja biru yang bahkan enggan untuk berdiri. Ksatria Merah itu berbisik, “Terima kasih, teman-teman yang menarik.”
Coba menjelajahi ruang kelabu yang relief lantainya anonim. Aku menggunakan satu-satunya sandal kotor dan tak layak, juga kebesaran. Ruang ini memang gudang. Segala yang didalamnya enggan terpakai lagi. Tapi aku memaksa. Dan sandal hitam kebesaran itu akhirnya menyerah. Oh, solnya hampir terburai. Enggan dipijaki kaki buruk tak terurus.
Kupu-kupu biru mencuri kalung leher sang sapi. Mengepak angkuh mencari teritori baru. Hei ruang persegi kelabu, kau kedatangan tamu.
Tarik garis lurus, mulai berkontemplasi. Memilah tiap memori. Ini ruang yang tepat untuk membuka lebar-lebar topeng yang biasa dikenakan. Aura kelabunya menggerakkan itu.
Bahkan deretan hanger tua ini punya cerita. Tentang helai-helai kain yang baru dan usang yang bersaing untuk memuaskan lekuk tubuh. Mencoba menutupi dengan nyaman. Biasanya si baru itu angkuh. Tapi ia masih memiliki sedikit memori, tak seperti si usang yang selalu terkenang.
@philaluphia
Tuhan menciptakan kegagalan. Lagi dan lagi. Dan satu orang harus dapat banyak kata gagal. Supaya nanti bila akhirnya raihan itu digenggam, kita akan sangat bersyukur.
Adakah ambang batasnya kalau begitu? Hingga bila limit itu tersentuh, butuh terminasi.. tapi dalam bentuk yang berbeda selain mati? Terus melawan, mungkin…
Kalau ada yang bilang mimpi = endorphin hidup, aku salah satu yang sangat setuju.

From : My timeline
picture taken from here
Jumat, 02 April 2010
bicara.menulis.hati

Aku banyak membaca selama waktu nganggurku, tentu. Tapi sepertinya ratusan ribu kata di fanfiksi (bacaan yang tersering) itu nggak akan banyak membantuku selama frekuensi bicaraku (dan berfikirku) jauh berkurang. Kurasa ini sebabnya banyak orang yang nganggur itu menderita kelainan mental : mereka mengalami degenerasi otak jauh lebih cepat dibanding orang kebanyakan.
Oh, hidup, kapan kau berhenti bersikap kejam?
Sabtu, 27 Maret 2010
yang terpinggirkan
Aku sibuk menyalahkan waktu dan masa lalu. Menyalahkan keadaan yang membawaku ke titik ini.
Aku sibuk membenamkan diriku pada ruang gelap hidupku, menekan perasaan dan memberikan depresi sebuah ruang luas untuk membiakkan diri.
Aku sibuk mempertanyakan takdir. Betapa hidup ini penuh ketidak adilan, mereka tertawa dan aku terisak disini. apa yang Tuhan berikan tentang kebahagiaan.
Tiap kaca dan Kristal bening terasa manis jika dilempar dan dibenamkan dalam lunaknya kulit. Membiarkan darah dan rasa sakit merembes sepertinya satu kompensasi yang wajar. Rasa sakit adalah euphoria yang baru.
Hingga aku lupa sesuatu yang terpinggirkan.
Paru-paruku kini bersih dari cairan.

Itu syukur.
Jumat, 26 Maret 2010
september, 26, 2009
This day definitely was one of my favorite and must-remembered days of my life. I mean, semuanya mixed up. Then when I told you ‘semuanya’ it means ALL. REAL ALL.
That was the day of him..
I know..
The day when all those silly feelings came to an end.
Perjuangan panjang membibitkan, menanam benih, memupuk, menyamarkan keberadaannya sambil merawatnya di saat yang bersamaan. Mencoba mengabaikannya, mencoba melupakannya, mencoba mencabutnya walau akar yang tertinggal tetap membuatnya tumbuh kembali, perlahan. Tak pernah benar-benar pergi.
Hingga.. akhirnya hari ini, harus tercabik dan tercabut secara paksa. Bekas lukanya dalam. Sampai aku nggak tahu bagaimana harus membebatnya.
Ya, hari ini saatnya.
24 jam sebelum saat sakral itu, aku nggak nangis, aku kuat. And I appreciated myself so much about that.. dan hingga kurang lebih 12 jam setelah momen sakral itu selesai, aku juga nggak merasakan apa-apa. Nggak sedih walau juga nggak lega.. benar-benar nggak terdefinisikan.
Awalnya aku kira itu sebuah keberhasilan bahwa akhirnya.. it’s done. Definitely finished. Aku berhasil menghadapi ikrar sucinya pada cewek lain tanpa harus memalingkan wajah.
Kata-katanya mantap waktu membacakan sumpah pernikahan, walau agak sedikit terlalu cepat. Dan saat itu, walau aku sadar bahwa sejak itu ia sudah sah dan meyakinkan jadi milik orang lain, aku nggak merasakan apa-apa.
Mungkin aura magis pernikahan menyamarkan semuanya. Menguncinya di sebuah ruang yang nggak bisa dibuka hanya dengan sebuah alohomora. Perlu mantra khusus.
Aku melihat semuanya sejak awal : pembacaan sumpah, pengikatan janji, rentetan seremonial adat pernikahan yang sudah aku saksikan beberapa kali.
Dia tersenyum? Of course..
Dan hampir di seluruh detiknya.
Dan apakah aku bahagia? Melihatnya secerah itu? Tentu. Tentu.
Dan saat itu, aku benar-benar bersyukur bahwa bukan aku yang dia gandeng, karena, belum tentu aku bisa membuatnya sebahagia itu.
Dia itu.. bagiku.. kekuatan dan teladan di hampir separuh hidupku. Sosoknya ngasih aku motivasi dan harapan, yang kurasakan makin mengabur dalam 5 tahun terakhir ini.
Sejuta kali aku merindukannya dan sejuta kali juga aku sadar harus berusaha lebih kuat lagi untuk bisa sejajar dengannya, apapun yang terjadi.
Sekarang, berapa kali pun aku merindukannya (dan aku tahu itu sudah sangat-sangat terlarang) nggak akan ada yang terjadi. Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi sejak dulu.
Aku nggak mengerti apa yang membuatku begitu kuat.. dan kebas siang itu.
Aura pesta riuh yang memusingkan.. atau rendezvous bersama teman lama. Kurasa karena perpaduan keduanya.
Tuhan sayang aku, aku tahu.
Karena Dia mengirimkan sahabat-sahabatku di saat yang tepat. Mengabarkan bahwa mereka ada di kota ini. Menungguku untuk datang. Sebuah pesan singkat di tengah keriuhan pesta. Membuat senyumku melebar, karena aku tahu apa yang akan menyambutku. Kehangatan.
Kami jarang bertemu karena masing-masing kuliah di kota yang berbeda. Mereka datang menyelamatkan aku dari ancaman nangis akbar.
Ya, aku pikir itu yang bakal terjadi andai aku pulang ke rumah langsung setelah pesta pernikahannya.
They told me stories, jokes and everything to make me laugh. Just forgot the wounds for awhile and reminded me that I could be happy, if I wanted to.
We discussed books, manga, songs, movies, like usual, strolled around munching ice cream, had junk food. Hingga senja turun dan aku harus pulang. Harus kembali sendiri, namun dengan kekuatan baru.
Dan aku selalu merasakan dorongan itu di dekat mereka, untuk membentangkan tangan membagi sebuah pelukan. Felt like leaning to their side, drop my head to their shoulder.. it felt so right..
Dia pergi dari hatiku, aku tahu.
Tapi aku punya mereka.
Untuk saat ini, itu cukup.
*huruf bercetak miring adalah backsound yang terputar saat catatan ini tertulis.
Sabtu, 13 Maret 2010
remah tersisa dari sebuah hari
Aku merasakan excitement itu..
Aku mencoba berbagi dngan orang-orang yang memengaruhi aku, meniupkan semangat, menemani sesekali. I am still a loner. Yes. Dan aku sedang sangat menikmati rasanya terasing. Sendiri. Seperti bisa menyesap tiap kesedihan yang mengendap selama belasan tahun terakhir.
Iya, aku nggak berurusan dengan hari, minggu bulan atau dentangan jam.
Aku mencoba mengikis korosi yang kesedihan dan insignifikansi lapisi bertahun-tahun.
Mencoba kembali berdiri.
Nanti.
Terima kasih untuk semua peluk cium dan apresiasi yang terbalaskan.
Aku rindu tertawa, tersenyum dan menikmati hidup.
Biar sore ini dulu saja.
Aku nanti..
Karena remah kasih itu sepertinya masih ada.
Terima kasih.
another wedding, another wish of happily-ever-after-life
selalu wondering, apakah itu selalu ada di benak tiap individu setelah selesai sekolah lalu mendapat pekerjaan dan langkah selanjutnya adalah.. pernikahan?
Bagaimana dengan mimpi?
Bagaimana dengan idealisme cinta? Merasa klik dengan seseorang, bahwa ia adalah sosok tepat buat kita.
Atau bahwa pernikahan adalah mimpi itu sendiri? Dimana ia membangun wacana tentang idealisme cinta seiring dengan terajutnya jalinan itu..
Cinta seperti apa yang akhirnya membawa kita pada bentuk keyakinan hati hingga menjejak seremoni sakral pernikahan?
Bentuk cinta seperti apa?
Dalam tahapan seperti apa?
Dan, pernikahan hanya sebentuk seremoni?
Cinta, di mataku, adalah penyatuan dua karakter dimana masing-masing irisannya terdapat bagian–bagian individu yang melebur satu sama lain. seperti berbagi diri, berbagi visi dan intensi..
Sejoli yang tak mampu menyakiti selain untuk kebenaran hakiki yang makin mendekatkan dua jiwa.
Aku bingung karena belum pernah mengecap rasa sedahsyat itu.
Aku masih mencari ruang nyaman dimana aku mampu leluasa bergerak melacak mimpi.
Aku masih mencari sosok.
Sebuah bentuk cinta yang meyakinkan aku bahwa pernikahan bukan sekedar ritual atau seremonial lanjutan dalam fase hidup.
Sosok itu harus membuat alur hidupku ini beriak dalam bulatan-bulatan air yang terlempar ke udara, dan satu-satunya hal yang terlihat dalam Kristal beningnya adalah rasa syukur bahwa inilah dinamika indah dalam sebuah perjalanan singkat.
Ia memberikan begitu utuh hingga aku mampu memberi sama banyak.
Tidak sekedar kata-kata manis dalam kecapan bahagia sesaat hingga menimbulkan ledakan. Pernikahan dari itu tak lagi ikatan murni dua hati. Itu sekedar rekatan rapuh nafsu. Mereka itu yang tersiram pusaran arus lalu luruh.
Aku ingin bila momen itu datang –bahwa mimpiku mencakup sebuah pernikahan di dalamnya, dan sosok tepat itu tiba dan kami adalah simpul mati yang tetap rekat selamanya.








.jpg)