Tampilkan postingan dengan label shortstories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shortstories. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

the fear you won't fall


It hasn’t felt like this before. It hasn’t felt like home before you.

Yang Lavie harapkan saat ia masih terjebak di gedung ini selepas jam kantor berakhir adalah kemunculan wajah familiar yang membuat harinya seakan punya nilai kebahagiaan ekstra. Aneh bagaimana sebentuk paras mampu mengubah kelabu menjadi sedikit jingga. Seperti warna senja yang kerap menghias langit kampung Lavie kecil dulu. Yang merupakan view favoritnya.
Tapi selasar ini sepi. Lalu lalang penjenguk yang biasanya memenuhi tiba-tiba menyurut. Riuhnya jauh berkurang.
Ia masih punya satu bundel dokumen yang harus ia fotokopi, dilabel ulang dan dikelompokkan. Dan setelah itu ia baru benar-benar bisa pulang. Sebelum itu, ia ingin sekali menemukan sosok itu. Sekilas pun tak apa, Lavie mengerti dengan tekanan pekerjaan dan tugas dia sebagai residen bedah senior yang punya seabrek pasien di rumah sakit. Salah sedikit fatal akibatnya, dia bisa jadi akan ditransfer turun satu semester.
Iya, dia pernah bercerita itu suatu hari. Di hari hujan saat tak sengaja mereka bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di kota ini dan memutuskan nongkrong di food court hingga hujan reda. Dan akhirnya mengobrol hingga jauh malam. Hingga mall itu hampir tutup. Saat itu Lavie lupa ia harus merekap ulang laporan keuangan bulanan yang harus disetorkan keesokan harinya.
Lavie mengenalnya saat dia masih menjadi residen bedah junior, masih di semester awal. Saat itu Anneke, teman sekantor sekaligus sahabatnya, harus dioperasi karena appendiksnya bermasalah. Dan dia adalah residen yang bertanggung jawab memonitor perkembangan Anneke pada dokter konsulen.
Dua kali sehari dia akan datang ke ruang rawat Anneke, memeriksa kondisinya. Mengobservasi. Lavie nggak engeh pada awalnya, malah Anneke yang giat menggoda. Kadang meminta sang residen junior untuk datang lebih dari dua kali sehari dengan keluhan-keluhan aneh yang tidak jelas. Memusingkan Lavie dan para perawat.
Tapi dia dengan sabar menghadapi. Dengan senyuman khas dan nada bicara kalem yang menenangkan mampu mendiamkan kicauan Anneke yang agak lebay.
“Vie, nggak boleh, ya, jatuh cinta sama dokter sendiri?” sembur Anneke suatu hari. Dokter Dim, dokter konsulen yang menangani operasinya, beberapa menit yang lalu baru berlalu sambil mengatakan besok Anneke boleh pulang.
Alis Lavie terangkat sebelah mendengarkan ini. “Ann, sejak kapan selera lo seumur ama papa lo? Iya sih dokter Dim kelihatan keren dengan jas dokter dan segala atribut bedahnya itu..”
“Monyoong gue bukannya naksir sama dokter Dim!” potong Anneke ngambek. “Gue jatuh hati sama si ...”
Saat itulah dia masuk, dan Lavie baru mulai benar-benar memperhatikan. Menjulang dengan bahu lebar yang dibalut jas putih residen, kacamata yang tak mampu menutupi lingkaran hitam samar di sekitar mata. Stetoskop yang melingkar di leher, dan seabrek folder status pasien yang dipeluk di satu tangan.
“Dokter Arga...” ucap Anneke lirih, hampir menyerupai bisikan.
“Selamat ya, Mbak Anneke, besok sudah bisa pulang..” saat itulah Lavie sadar kalau cerita tentang senyuman maut yang Anneke paparkan bukan bualan.
Karena ia pun terpikat. Sesaat.
Love at the first sight isn’t Lavie’s thing, though.

I know it’s easy to say. But it’s harder to feel this way. I miss you more than i should. Than i thought i could. I can’t get my mind off you.

“Vie, papa masuk Hasan Sadikin..”
Kabar itu datang di hari hujan di tengah bad Monday yang biasa Lavie hadapi dengan segelas tall capuccino. Alih-alih capuccino, Lavie hanya memiliki secangkir hazelnut coffee hangat. Dan ia hampir menumpahkan separuh isinya saat telepon itu masuk. Mas Bayu, kakak tertuanya yang mengabarkan.
Hazelnut coffee itu pun dibiarkan mendingin di atas meja kerja Lavie ketika ia spontan menyeruak keluar kantor dan berlari ke IGD.
Papa masih di triase ketika Lavie tiba. Berbaring di bed brankar paling ujung dengan salah seorang residen membungkuk di atasnya. Dokter residen itu menoleh ketika Lavie reflek memanggil papanya.
Dokter itu Arga.
“Eh, temannya mbak Anneke..” Arga menyapa Lavie terlebih dulu. “Ini Ayahnya?”
Dengan cepat dan polos Lavie mengangguk. “Bagaimana Papa?” wajahnya pias, khawatir juga panik. Papa punya darah tinggi, lambungnya pun bermasalah.
“Saya periksa dulu, ya.. setelah ini papanya harus CT scan dulu soalnya kepala beliau sempat terbentur saat jatuh..”
Seharusnya berita kalau kepala papanya mengalami benturan bisa membuat seorang anak mengalami kekhawatiran ekstra. Tapi tatapan lembut Arga ke arahnya saat itu, herannya membuat Lavie seakan lupa.
“Oh.. iya..”
“Aneh, kok kita selalu ketemunya saat orang dekat kamu sakit, ya..” ucap dokter Arga sambil berbalik kembali memeriksa Ayah Lavie.
“Hah?”
“Iya.. pertama Anneke, lalu papa kamu..”Arga menoleh sesaat sambil tersenyum kecil ke arah Lavie.
“Dan selalu kamu dokternya..”bisik Lavie lirih, terlalu pelan, hingga ia yakin Arga tak mendengar.
Seorang dokter muda yang menjadi asisten Arga mendampingi Ayah Lavie di ruang radiologi. Ia tak sekalem Arga, tak setenang Arga, tak semenyenangkan Arga.
Sisa waktu CT scan hingga Ayahnya tiba di ruang rawat inap, benak Lavie sibuk mencari Arga.

I hate the phone. But i wish you’d call.

Bundelan dokumen sudah beres dan siap dikerjakan besok pagi. Lavie melangkah gontai di sepanjang selasar temaram yang sepi. Beberapa pengunjung dan brankar bed yang lalu lalang sesekali hampir tak memengaruhinya.
Ada ponsel yang tergenggam di tangannya. LCDnya menampakkan sederet nomor yang sudah lama ia simpan sejak berbulan-bulan yang lalu. Nomor yang familiar di ingatan karena ia hafal sejak kali pertama sang pemilik memberikannya.
Itu sisa kenangan waktu opname Papanya. Salah satu momen indah di tengah chaos masa kritis Papanya, sebelum beliau pergi untuk selama-lamanya.
Dan nomor ini mengingatkan senyum sang Papa saat mendapati tingkah aneh puteri bungsunya yang memandangi ponselnya sambil mesam-mesem tidak jelas. Atau colekan pelan sang Papa selesai si dokter memeriksa keadaannya. Atau gamitan sang Papa sambil berujar tanpa suara “berjuang, Lavie” sebelum beliau kolaps dan dilarikan ke CICU.
Nomor yang hanya sekali Lavie berani tekan dan hubungi. Untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang sederhana.
Itu saja. Tak ada yang lain.
Kadang di satu momen desperate yang menyesakkan, Lavie berharap ponselnya berdering dengan nama itu yang terpampang di layar LCD.
Hanya harap, Lavie tahu, hanya harap.

That’s part of it all. Part of the beauty of fallin in love you. It’s the fear you won’t fall.

Di kalangan perawat, Lavie pernah mendengar, kalau kamu dokter, kamu akan menikah dengan dokter juga. Apalagi saat kamu ada di fase residensi dan masih lajang, intensitas pertemuan dengan sesama dokter residen akan sangat tinggi hingga kemungkinan percikan-percikan roman itu membara ada dimana-mana.
Lavie ingin tak percaya. Ia menelusuri daftar teman-temannya yang berprofesi sebagai dokter dan mencari tahu dengan siapa mereka menikah.
Ya, sebagian besar dengan dokter juga.
Ketika Ayah Lavie sudah seminggu diopname. Beliau dioperasi karena ketahuan ada tumor di lambungnya. Ada kekhawatiran bahwa itu jenis tumor yang tidak jinak. Namun dokter Dim, dokter konsulen Papa Lavie, dan Arga meminta keluarga Lavie untuk tidak menduga-duga hingga hasil biopsi dan VC dari patologi anatomi keluar.
Selama itu.. Lavie memperhatikan Arga lebih seksama. Dengan siapa dia datang saat visite, rekan residen laki-laki? Perempuan? Atau dokter muda?
Atau ketika Arga harus menerima telepon saat sedang mengecek kondisi Papanya. Nadanya lembutkah? Marah? Atau cenderung datar?
Bila waktu itu Anneke bertanya bisakah ia jatuh cinta pada dokternya sendiri, kali ini Lavie menyuarakan pertanyaan sejenis, apa mungkin ia jatuh hati pada dokter Papanya? Bolehkah?
Walau Lavie sadar sepenuhnya ia akan kalah saing dengan deretan rekan residen Arga. Atau daya tarik dokter-dokter muda wanita di sekeliling Arga.
 Ya, Lavie mengerti, amat mengerti.

Thought being alone was better than.. was better than..

Kening Lavie mengkerut heran saat pagi-pagi Anneke sudah sibuk menyeretnya izin keluar kantor padahal hari itu hari Kamis dengan jadwal verifikasi data seabrek yang melihat tumpukan dokumennya saja sudah bikin Lavie pusing kepala.
“Udah, jangan banyak nanya, deh, ngikut aja, Lavie..” hanya itu jawaban Anneke saat Lavie berkali-kali bertanya. Kalau itu bisa diklasifikasikan sebagai jawaban ya.
Mereka berdua berjalan ke area dimana Atoz Anneke terparkir.
“Kita ada tugas luar, gitu, Ann?”
Anneke terlihat berpikir sebentar, lalu nyengir misterius. “Yah, bisa dibilang gitu. Ini misi khusus!”
Walau luar biasa heran dengan tingkah sahabatnya yang sangat aneh begini, Lavie tetap nurut saja waktu dipaksa masuk dan duduk manis di samping Anneke sementara ia mengemudi.
Atoz itu dikemudikan menuju Savoy-Homann.
“Brevet Bedah?”
Anneke nyengir lebar saat Lavie akhirnya mengerti tempat tujuan mereka.
“Gue tahu lo naksir berat ama si Arga itu.. Eits jangan tanya gue tahu dari mana..” Anneke memotong cepat ketika bibir Lavie terangkat siap bicara. “Selebrasi terakhir dia, dan gue pingin lo liat, Vie..”
Untuk terakhir kalinya, Lavie membatin.
Seumur hidupnya Lavie belajar untuk mandiri. Tidak mudah mengharapkan bantuan orang lain saat ia rasa ia masih mampu melakukannya seorang diri. Dalam masalah apapun. Dalam menghadapi apapun. Menjadi satu-satunya anak perempuan di tengah 5 bersaudara dan empat kakak laki-laki membuatnya sedikit tertempa seperti mereka.
Termasuk masalah perasaan.
Lavie ingin sekali mematahkan stigma wanita adalah makhluk yang mengedepankan perasaan di atas segalanya. Ia ingin membuktikan logikanya masih bekerja dengan seimbang dengan perasaannya. Dalam mengatasi perasaannya terhadap Arga pun seperti itu.
Walau kadang ia terpukul jatuh merasa tak punya harapan dengan sosok  Arga, Lavie berusaha sebisa mungkin tak menampakkannya. Pada siapapun.
Jadi saat ini di tengah aula convention centre Savoy-Homann bidakara hotel, di tengah riuh rendah para tamu undangan memberikan ucapan selamat pada spesialis bedah yang baru disumpah, logika Lavie menyuruhnya kembali, pergi.
“Jangan kabur, Vie..” perintah Anneke, ketika memandang Lavie yang wajahnya memancarkan dengan gamblang niat hatinya.
Saat itulah Lavie luruh, “Nggak bisa, Ann.. please..”
Sendiri memang kadang memilukan. Tapi untuk Lavie, mengakui rasa yang sampai kapan pun nggak akan pernah terbalas, itu lebih menyakitkan.

song The fear you won't fall performed by Joshua Radin

Minggu, 25 Juli 2010

The Birthday Girl : Sketch one

Ada sesuatu yang merasukinya kala menatap suasana kelabu di balik pintu kaca otomatis. Sebuah momen di masa lalu yang selalu memerangkapnya tanpa ampun. Membuatnya terpaku di tengah-tengah lobby kantor seperti gadis bodoh yang seenaknya melamun di pusaran riuhnya arus karyawan yang meluncur keluar seusai jam pulang.
Tapi sekali lagi, hujan yang mengancam di balik suasana kelabu itu memberinya waktu untuk mengurai sebuah kenangan lama.
Untaian peristiwa yang terjadi jauh sebelum ia bekerja di gedung perkantoran berlantai 22 ini, menyibukkan diri tiap senin hingga jumat dalam sebuah cubicle sejak jam 07.00 pagi hingga usai Maghrib, bahkan lebih larut jika ia harus lembur.
Tiap pulang setelah hari gelap, momen masa lalu itu tak pernah menggodanya. Merayunya untuk kembali melamun. Kenangan itu memilih menenggelamkan diri di balik selimut hangat di sudut benak. Dan akan keluar dari tidur panjang pada saat yang diinginkan. Tidak pernah terjadi dalam tiga tahun terakhir ini.
Namun di sore kelabu menjelang senja ini, momen itu seolah menggeliat dan memilih untuk merangsek keluar.
Ia tak lagi peduli pada tubuh-tubuh yang lalu lalang di sekelilingnya, pula pada gerutuan-gerutuan keras akan posisinya yang menghalangi langkah-langkah mereka. Ia juga tak peduli bahwa kelabu itu sebentar lagi akan memuntahkan hujan hingga ia harus bersiap basah kuyup sesampainya di kosan nanti. Atau pun bahwa ini adalah waktu yang langka di tengah jam kerjanya yang luar biasa panjang dan melelahkan, saat ia bisa pulang lebih awal dan menghibur dirinya sendiri dengan pergi belanja atau nonton film baru di Blitz megaplex.
Tidak. Ia masih terpaku di tengah lobby, walau perlahan mampu meraih kembali kesadaran atas suasana sekitar dan melangkah keluar dengan pelan. Tapi aura kelabu di balik pintu kaca otomatis itu masih menghipnotisnya. Mengingatkannya pada dirinya 3 tahun lalu.
Dan tiba-tiba saja sosok gadis muda kurus, berkeringat dan buta mode—terlihat dari busana yang dikenakan seperti tak tersentuh teori mix and match paling dasar sekalipun—melintas mengayuh sepeda mini vintage berkeranjang depan yang dipenuhi rangkaian bunga rose dan lily. Rambut sebahunya berkibar, kusam berlatar kelabu dengan rintik kecil gerimis yang mulai berkecipak di tubuhnya. Tangannya mulai gemetar kepayahan karena terlampau erat menggenggam kemudi, pun kakinya yang bergetar aus karena telah mengayuh seharian. Tapi wajah gadis itu memancarkan tekad keras, untuk mengantar pesanan rangkaian bunga terakhir itu pada seseorang di seberang jalan sana, yang menanti kelopak-kelopak cantik itu untuk diserahkan pada seorang wanita yang hendak ia lamar malam nanti.
Romansa yang mengetuk kalbunya di tengah kegigihannya mengayuh. Satu hal yang ia dambakan bisa hadir dalam kehidupannya yang seolah sama tak menariknya dengan penampilannya.
Bayangan familiar itu tak hilang dari matanya walau kakinya telah melangkah keluar ke teras gedung saat pintu kaca otomatis itu membuka dan memberinya ruang untuk menikmati dinginnya angin senja yang mengisi latar kelabu di hadapannya.
Ekor sepeda mini itu menyisakan kerlipan aneh, pantulan dari sisa matahari terbenam yang mengintip dari celah gumpalan awan kelabu, saat akhirnya kesadaran kembali menderas mengisi benaknya lewat sebuah tepukan pelan namun tegas di bahunya. Seulas senyum hangat yang telah menghiasi harinya belakangan ini muncul ketika ia menoleh pada sosok yang menepuk bahunya tadi.
Guratan lelah tak mampu menyembunyikan pancaran ketertarikan dan kekaguman di mata lelaki itu saat menatapnya. Padahal ia tak mampu membalas dengan intensitas yang sama. Ia belum sanggup.
“Yudhis..” bibirnya dengan lirih berbisik. Reflek.
Senyum lelaki yang dipanggil Yudhis itu makin merekah mendengar sapaan cepat itu. Membuatnya merasa familiar di mata si gadis.
“Pulang bareng, Kania…” ajak Yudhis tanpa basa-basi sedetik kemudian.
Ia, Kania, tertegun sejenak. Sambil menoleh ke spot terakhir bayangan gadis kusam bersepeda mini bisa dilihatnya. Bayangan itu menghilang. Tentu. Kenyataan menelannya kembali dan menaruhnya ke tempat yang seharusnya. Sosok dirinya di masa lalu.
“Kania…?”
“Ya?”
“Mau pulang bareng?” Yudhis menegaskan ajakannya melihat gestur Kania yang ambigu.
Sekali lagi mata Kania tertumbuk pada pancaran penuh harap yang menjulang di depannya. Tapi bayangan yang mengetuknya tadi membuat Kania mengingat sebuah tempat yang lama tidak ia kunjungi. Dan hatinya tergerak untuk berkunjung senja ini. Itu berarti Kania harus menolak ajakan Yudhis. Ya.
“Kita bisa makan malam dulu sebelum balik. Dan cari kado. Kamu ingin hadiah apa? Nggak apa, kan, kalau aku kasih lebih awal, dan tanpa kejutan?” Yudhis mencoba meyakinkan Kania lagi. Membuahkan kedipan terkejut dari gadis itu. Bertanya-tanya kado apa yang Yudhis maksud.
“Kado??” tanya Kania bingung.
“Besok? April? Dua puluh?” pancing Yudhis, mengira Kania pura-pura lupa. Tapi melihat rona bingung Kania yang tak juga hilang Yudhis akhirnya mengerti, “ya ampun Kania. Bukannya dua puluh April itu hari Ulang tahunmu, ya?”
Tatapan bingun Kania berangsur menghilang, walau ia masih tidak yakin kalau tanggal itulah yang akan menyongsongnya besok. Apakah aktivitas dan kesibukan pekerjaannya terlalu menyita perhatian Kania hingga ia amnesia hari? Kania menghela nafas, mulai mencerna maksud ajakan Yudhis.
“Maaf. Lain kali, ya, Yud..” tolak Kania halus.
Kedua alis Yudhis berkerut, bertemu di satu titik di awal lekukan tulang hidung. “Kamu ada acara lain?” ia bertanya ragu, ingin tahu namun di saat yang sama khawatir dicap terlalu ikut campur.
Kania tersenyum mengerti, ia lalu menggeleng pelan dan mulai melangkah menembus gerimis.
“Sampai nanti, Yudhis…”
Lambaian singkat jemari Kania adalah hal terakhir yang Yudhis tatap sebelum sosok ayu itu menghilang di tikungan jalan.
“Sampai nanti, Kania. Selamat Ulang Tahun…” bisiknya lirih, sebelum akhirnya beranjak pergi.