Panas menyengat membelai wajah. Namun pengaruhnya tak seberapa besar seperti waktu aku menjadi manusia normal dulu. Ini mungkin keistimewaan pelindung : imun terhadap perubahan cuaca. Setidaknya di saat sesi latihan seperti ini.
Walaupun dikondisikan seperti aslinya, dengan temperatur yang menyesuaikan dan sebagainya, tubuh kami—para pelindung—akan belajar sedikit demi sedikit beradaptasi. Kami akan merasakan sengatan panas, menusuknya dingin, tetes basah hujan, sedetik dua detik rasa tak nyaman akan merayap, namun selanjutnya tubuh dengan sendirinya akan menyesuaikan.
Sosok di depanku ini menginformasikan hal tersebut barusan, ketika kutanyakan kenapa aku tak benar-benar kepanasan.
Kami sedang berada di satu titik di jalanan kosong salah satu interstate sepi di selatan U.S. menjalani sesi latihan adaptasi.
Hanya kami berdua.
Gregori mengawasi dari entah dimana tentu saja, namun ia tak menampakkan diri.
Jadi, yah, berdua. Cowok bermata kelabu ini masih asyik menerangkan mekanisme perubahan termoregulasi pada tubuh seorang pelindung. Bla, bla, bla. Dan aku, dengan tak menghiraukan ucapan yang keluar dari bibirnya, sibuk mengamatinya.
“You’re so Asia,you know..”
“Pardon?” rautnya agak kaget karena disela di tengah-tengah penjelasan.
“Wajah kamu itu saangat Asia. Bahkan jelas jelas garis wajah Asia Tenggara. Jadi mau sekental apapun aksen English British-mu itu, kamu nggak bisa menipuku.
”
Dahinya berkerut, menampilkan raut tak mengerti. Atau pura-pura tak mengerti.
“Dan kamu itu mengingatkanku pada seseorang..”
Dia merasakan itu, aku melihat dari pancaran matanya bahwa dia tahu apa yang aku bicarakan—dirinya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan, juga topik pembicaraan.
“Kalau kamu sudah mengerti kenapa kamu tak merasakan perubahan signifikan terhadap temperatur, sebaiknya kita mulai sesi latihan hari ini.”
“Kamu mengingatkanku pada Raka.”
Dan ia sontak membeku. Menjawab rasa penasaran yang selama ini mengendap di benakku sejak pertama kali bertemu dengannya.
“Mungkin karena kemiripan nama. You know, Raka dan Arakata.”
Tahu bahwa itu salah satu usahanya untuk berkilah, aku hanya tersenyum. “No, it’s more than just a name.”
Ia masih enggan menatap mataku. “Sebaiknya latihan dimulai.”
“It’s weird, karena aku menyukai Raka. Dan melihat kembali sosoknya dalam bentuk yang berbeda seperti ini cukup mempengaruhi perasaanku.” Entah dorongan apa yang mendesakku membuat pengakuan seperti itu. Namun tak ada kesan menyesal tersisa.
Aku memandangnya terpaku. Wajahnya menatap sudut jauh di padang tandus.
“Aku mau memanggil Raka, boleh?” lenganku terulur, menangkap kelingkingnya yang terkulai di sisi tubuh.
Saat itulah ia menoleh, memandangku tajam, “No.. Aku Ara. Arakata.” Persisten, seperti biasa.
Dan ia menarik lengannya menjauh, namun tatapannya melembut.
“I can’t be that.. Your Raka anymore. But i can be your Ara. Your Grey.”
Benak yang tak seberapa lincah mencerna ini masih sibuk memproses ucapan si ‘kelabu’ tadi. Ya, Gregori pernah bicara padaku suatu waktu, sekali seseorang bertransformasi menjadi kaum kelabu dan mengabdikan dirinya mendampingi seorang pelindung dalam masa pelatihannya, maka ia harus meninggalkan masa lalunya. Seperti seorang pelindung sendiri hidup—meninggalkan masa lalu dalam satu kompartemen yang diam di sudut memori tak terjangkau.
Setidaknya si kelabu ini ‘milik’ku. Meski ia bukan Raka.
“My only Grey?” tanyaku mengkonfirmasi.
Si mata kelabu itu terdiam sesaat, tatapan lembutnya masih terkunci dengan mataku. Lalu dengan mantap ia mengangguk.
My Grey. My only Grey.
of dreams | of life | about love | of bitter reality | of hopes and wishes | about you. Yes, you.
Tampilkan postingan dengan label some unfinished prompt of my stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label some unfinished prompt of my stories. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 September 2012
Sabtu, 08 September 2012
kembali...
Even now when I'm alone I've always known with you I am home
For me it's a glance and the smile on your face the touch of your hands And an honest embrace
Aku rindu tetes hujan.For where I lay it's you I keep, This changing world I fall asleep With you all I know is I'm coming home, Coming home
Ritmenya yang menenangkan. Aroma tanah basah yang melipur perih. Kesejukan alami yang menyelubungi.
Aku rindu berjalan di bawahnya. Seperti yang kerap aku lakukan dulu. Hujan mengingatkanku akan keberadaan dirinya. Arakata.
Sepuluh tahun yang panjang. Namun terlalu singkat begitu terlewati. Detik-detik dia ada di sampingku, menemani saat pelatihan berat demi memperkuat circle. Memenuhi takdirku.
Dia takut hujan, itu yang mengingatkanku padanya.
Seperti transformasi dirinya menjadi seekor kucing bermata kelabu, ia juga mewarisi sifat kucing yang agak alergi air. Ribut tak jelas tiap kali aku bermain di bawah hujan, membasuh rasa frustasi akibat latihan berat dan tugas dalam circle.
Sosok manusia-nya mendadak muncul tiap kali aku membandel dan Gregori sudah terlalu lelah dan malas menyuruhku kembali ke mode pelindung alih-alih bertingkah seperti anak kecil berlarian dalam hujan. Gregori licik. Selalu tahu titik lemahku.
Tangannya hangat menggenggam pergelangan tanganku, erat, memfiksasi tubuhku agar berhenti bergerak. Suaranya terdengar jelas meski bersaing agar tak teredam riuh hujan.
Dia memaksaku menatap mata kelabunya. Hingga aku kikuk sendiri.
“Balik!” tegas, namun tak terdengar kasar. Sorot matanya sama kukuh. “Atau lo mau ngebunuh gue dengan hujan-hujanan begini.”
Sebatas itu, dan aku kelu.
Berbagai kalimat untuk menukas balik kata-katanya berkelebat percuma. Hilang sekejap ditelan genggaman hangat dan sorot tegasnya. Dan aku tahu dari balik kanopi teras, Gregori berdiri angkuh dengan senyum kecil yang jarang muncul di wajahnya. Menikmati kekalahanku.
Kalau sudah begitu, aku akan terseret di belakang langkahnya kembali ke Camp.
Sepuluh tahun, dan hujan tak akan pernah terasa sama lagi.
Karena dalam hujan terakhir kali itu, ia pergi. Menghilang dalam deru hujan yang katanya ia benci.
Seketika aku kehilangan genggam hangat dan sorot kukuh yang persisten memaksaku kembali pulang.
Aku rindu hujan.
Meski dalam siluet yang terselubung derai lebat, aku menginginkan sensasi kehadirannya. Kembali ke sini. Di sisiku.
quoted text : Home - Vanessa Carlton
Selasa, 12 Juni 2012
early in the morning
Ia menjulang, walau dari kejauhan. Tinggi badannya tak
berapa signifikan dari tinggi badan pria rata-rata. Tapi aku selalu bisa
membedakannya dari wajah-wajah lain, meski dari jauh.
Dengan kepala cepaknya yang helai rambutnya kini sedikit lebih
tebal. Atau raut lelah sehabis jaga semalam suntuk dan membludaknya pasien di
IGD. Senyum familiar yang ia tawarkan selalu menghangatkan hati.
“Sarapan?” ajakku, sedikit miris melihat lingkaran tebal di
sekeliling mata cokelatnya.
Ia menggeleng enggan, “Mau, tapi belum morning report...”
Aku mendesah sama berat dengan keengganannya pergi,
aktivitas rutin tiap pagi selepas jaga itu kadang bikin aku stress karena
menghilangkan kesempatan kami berdua.
“Makan siang?” tanyaku penuh harap. Mencatat dalam hati bila
ia mengiyakan aku harus cepat bilang pada Lusi, sobat kantor bahwa kami tidak
jadi lunch bareng.
“Hari ini aku di OK. Takutnya telat istirahat siang.”
Aku mencelos. Masih masa residensi saja waktunya seolah nggak
pernah ada buatku, bagaimana nanti saat ia telah resmi ditasbihkan sebagai
Spesialis Bedah. Tapi aku mengerti, sangat mengerti.
Walau berat, tapi aku mencoba tersenyum setulus mungkin.
Reflek aku sentuh lengannya, menenangkan. “Yaudah, nggak apa-apa. Jangan lupa
makan. Jaga kesehatan.”
Dengan cepat ia balas meremas jariku pelan, “Aku telepon
waktu senggang ya..”
“Nggak usah dipaksain. Ada waktu senggang mending tidur
sebentar.” Aku berusaha suportif.
Dia mengangguk patuh, walau aku tak yakin ada waktu senggang
yang memungkinkan dia terlelap. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan
prihatin. Dalam hati aku merapalkan mantra demi hubungan ini, seaneh apapun
kami terlihat, “I’m into this. He is too. We’ll stay strong.”
Rabu, 02 Mei 2012
the fear you won't fall
It hasn’t felt like this before. It hasn’t felt like home before you.
Yang Lavie harapkan saat ia masih terjebak di gedung ini
selepas jam kantor berakhir adalah kemunculan wajah familiar yang membuat
harinya seakan punya nilai kebahagiaan ekstra. Aneh bagaimana sebentuk paras
mampu mengubah kelabu menjadi sedikit jingga. Seperti warna senja yang kerap
menghias langit kampung Lavie kecil dulu. Yang merupakan view favoritnya.
Tapi selasar ini sepi. Lalu lalang penjenguk yang biasanya
memenuhi tiba-tiba menyurut. Riuhnya jauh berkurang.
Ia masih punya satu bundel dokumen yang harus ia fotokopi,
dilabel ulang dan dikelompokkan. Dan setelah itu ia baru benar-benar bisa
pulang. Sebelum itu, ia ingin sekali menemukan sosok itu. Sekilas pun tak apa,
Lavie mengerti dengan tekanan pekerjaan dan tugas dia sebagai residen bedah
senior yang punya seabrek pasien di rumah sakit. Salah sedikit fatal akibatnya,
dia bisa jadi akan ditransfer turun satu semester.
Iya, dia pernah bercerita itu suatu hari. Di hari hujan saat
tak sengaja mereka bertemu di salah satu pusat perbelanjaan di kota ini dan
memutuskan nongkrong di food court hingga hujan reda. Dan akhirnya mengobrol
hingga jauh malam. Hingga mall itu hampir tutup. Saat itu Lavie lupa ia harus
merekap ulang laporan keuangan bulanan yang harus disetorkan keesokan harinya.
Lavie mengenalnya saat dia masih menjadi residen bedah
junior, masih di semester awal. Saat itu Anneke, teman sekantor sekaligus
sahabatnya, harus dioperasi karena appendiksnya bermasalah. Dan dia adalah
residen yang bertanggung jawab memonitor perkembangan Anneke pada dokter
konsulen.
Dua kali sehari dia akan datang ke ruang rawat Anneke,
memeriksa kondisinya. Mengobservasi. Lavie nggak engeh pada awalnya, malah
Anneke yang giat menggoda. Kadang meminta sang residen junior untuk datang
lebih dari dua kali sehari dengan keluhan-keluhan aneh yang tidak jelas.
Memusingkan Lavie dan para perawat.
Tapi dia dengan sabar menghadapi. Dengan senyuman khas dan
nada bicara kalem yang menenangkan mampu mendiamkan kicauan Anneke yang agak
lebay.
“Vie, nggak boleh, ya, jatuh cinta sama dokter sendiri?”
sembur Anneke suatu hari. Dokter Dim, dokter konsulen yang menangani
operasinya, beberapa menit yang lalu baru berlalu sambil mengatakan besok
Anneke boleh pulang.
Alis Lavie terangkat sebelah mendengarkan ini. “Ann, sejak
kapan selera lo seumur ama papa lo? Iya sih dokter Dim kelihatan keren dengan
jas dokter dan segala atribut bedahnya itu..”
“Monyoong gue bukannya naksir sama dokter Dim!” potong
Anneke ngambek. “Gue jatuh hati sama si ...”
Saat itulah dia masuk, dan Lavie baru mulai benar-benar
memperhatikan. Menjulang dengan bahu lebar yang dibalut jas putih residen,
kacamata yang tak mampu menutupi lingkaran hitam samar di sekitar mata.
Stetoskop yang melingkar di leher, dan seabrek folder status pasien yang
dipeluk di satu tangan.
“Dokter Arga...” ucap Anneke lirih, hampir menyerupai
bisikan.
“Selamat ya, Mbak Anneke, besok sudah bisa pulang..” saat
itulah Lavie sadar kalau cerita tentang senyuman maut yang Anneke paparkan
bukan bualan.
Karena ia pun terpikat. Sesaat.
Love at the first sight isn’t Lavie’s thing, though.
I know it’s easy to say. But it’s harder to feel this way. I miss you
more than i should. Than i thought i could. I can’t get my mind off you.
“Vie, papa masuk Hasan Sadikin..”
Kabar itu datang di hari hujan di tengah bad Monday yang
biasa Lavie hadapi dengan segelas tall capuccino. Alih-alih capuccino, Lavie
hanya memiliki secangkir hazelnut coffee hangat. Dan ia hampir menumpahkan
separuh isinya saat telepon itu masuk. Mas Bayu, kakak tertuanya yang
mengabarkan.
Hazelnut coffee itu pun dibiarkan mendingin di atas meja
kerja Lavie ketika ia spontan menyeruak keluar kantor dan berlari ke IGD.
Papa masih di triase ketika Lavie tiba. Berbaring di bed brankar
paling ujung dengan salah seorang residen membungkuk di atasnya. Dokter residen
itu menoleh ketika Lavie reflek memanggil papanya.
Dokter itu Arga.
“Eh, temannya mbak Anneke..” Arga menyapa Lavie terlebih
dulu. “Ini Ayahnya?”
Dengan cepat dan polos Lavie mengangguk. “Bagaimana Papa?”
wajahnya pias, khawatir juga panik. Papa punya darah tinggi, lambungnya pun
bermasalah.
“Saya periksa dulu, ya.. setelah ini papanya harus CT scan
dulu soalnya kepala beliau sempat terbentur saat jatuh..”
Seharusnya berita kalau kepala papanya mengalami benturan
bisa membuat seorang anak mengalami kekhawatiran ekstra. Tapi tatapan lembut
Arga ke arahnya saat itu, herannya membuat Lavie seakan lupa.
“Oh.. iya..”
“Aneh, kok kita selalu ketemunya saat orang dekat kamu
sakit, ya..” ucap dokter Arga sambil berbalik kembali memeriksa Ayah Lavie.
“Hah?”
“Iya.. pertama Anneke, lalu papa kamu..”Arga menoleh sesaat
sambil tersenyum kecil ke arah Lavie.
“Dan selalu kamu dokternya..”bisik Lavie lirih, terlalu
pelan, hingga ia yakin Arga tak mendengar.
Seorang dokter muda yang menjadi asisten Arga mendampingi
Ayah Lavie di ruang radiologi. Ia tak sekalem Arga, tak setenang Arga, tak
semenyenangkan Arga.
Sisa waktu CT scan hingga Ayahnya tiba di ruang rawat inap,
benak Lavie sibuk mencari Arga.
I hate the phone. But i wish you’d call.
Bundelan dokumen sudah beres dan siap dikerjakan besok pagi.
Lavie melangkah gontai di sepanjang selasar temaram yang sepi. Beberapa
pengunjung dan brankar bed yang lalu lalang sesekali hampir tak memengaruhinya.
Ada ponsel yang tergenggam di tangannya. LCDnya menampakkan
sederet nomor yang sudah lama ia simpan sejak berbulan-bulan yang lalu. Nomor
yang familiar di ingatan karena ia hafal sejak kali pertama sang pemilik
memberikannya.
Itu sisa kenangan waktu opname Papanya. Salah satu momen
indah di tengah chaos masa kritis
Papanya, sebelum beliau pergi untuk selama-lamanya.
Dan nomor ini mengingatkan senyum sang Papa saat mendapati
tingkah aneh puteri bungsunya yang memandangi ponselnya sambil mesam-mesem
tidak jelas. Atau colekan pelan sang Papa selesai si dokter memeriksa
keadaannya. Atau gamitan sang Papa sambil berujar tanpa suara “berjuang, Lavie”
sebelum beliau kolaps dan dilarikan ke CICU.
Nomor yang hanya sekali Lavie berani tekan dan hubungi.
Untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang sederhana.
Itu saja. Tak ada yang lain.
Kadang di satu momen desperate
yang menyesakkan, Lavie berharap ponselnya berdering dengan nama itu yang
terpampang di layar LCD.
Hanya harap, Lavie tahu, hanya harap.
That’s part of it all. Part of the beauty of fallin in love you. It’s
the fear you won’t fall.
Di kalangan perawat, Lavie pernah mendengar, kalau kamu
dokter, kamu akan menikah dengan dokter juga. Apalagi saat kamu ada di fase
residensi dan masih lajang, intensitas pertemuan dengan sesama dokter residen
akan sangat tinggi hingga kemungkinan percikan-percikan roman itu membara ada
dimana-mana.
Lavie ingin tak percaya. Ia menelusuri daftar teman-temannya
yang berprofesi sebagai dokter dan mencari tahu dengan siapa mereka menikah.
Ya, sebagian besar dengan dokter juga.
Ketika Ayah Lavie sudah seminggu diopname. Beliau dioperasi
karena ketahuan ada tumor di lambungnya. Ada kekhawatiran bahwa itu jenis tumor
yang tidak jinak. Namun dokter Dim, dokter konsulen Papa Lavie, dan Arga
meminta keluarga Lavie untuk tidak menduga-duga hingga hasil biopsi dan VC dari
patologi anatomi keluar.
Selama itu.. Lavie memperhatikan Arga lebih seksama. Dengan
siapa dia datang saat visite, rekan residen laki-laki? Perempuan? Atau dokter
muda?
Atau ketika Arga harus menerima telepon saat sedang mengecek
kondisi Papanya. Nadanya lembutkah? Marah? Atau cenderung datar?
Bila waktu itu Anneke bertanya bisakah ia jatuh cinta pada
dokternya sendiri, kali ini Lavie menyuarakan pertanyaan sejenis, apa mungkin
ia jatuh hati pada dokter Papanya? Bolehkah?
Walau Lavie sadar sepenuhnya ia akan kalah saing dengan
deretan rekan residen Arga. Atau daya tarik dokter-dokter muda wanita di
sekeliling Arga.
Ya, Lavie mengerti,
amat mengerti.
Thought being alone was better than.. was better than..
Kening Lavie mengkerut heran saat pagi-pagi Anneke sudah
sibuk menyeretnya izin keluar kantor padahal hari itu hari Kamis dengan jadwal
verifikasi data seabrek yang melihat tumpukan dokumennya saja sudah bikin Lavie
pusing kepala.
“Udah, jangan banyak nanya, deh, ngikut aja, Lavie..” hanya
itu jawaban Anneke saat Lavie berkali-kali bertanya. Kalau itu bisa
diklasifikasikan sebagai jawaban ya.
Mereka berdua berjalan ke area dimana Atoz Anneke terparkir.
“Kita ada tugas luar, gitu, Ann?”
Anneke terlihat berpikir sebentar, lalu nyengir misterius.
“Yah, bisa dibilang gitu. Ini misi khusus!”
Walau luar biasa heran dengan tingkah sahabatnya yang sangat
aneh begini, Lavie tetap nurut saja waktu dipaksa masuk dan duduk manis di
samping Anneke sementara ia mengemudi.
Atoz itu dikemudikan menuju Savoy-Homann.
“Brevet Bedah?”
Anneke nyengir lebar saat Lavie akhirnya mengerti tempat
tujuan mereka.
“Gue tahu lo naksir berat ama si Arga itu.. Eits jangan
tanya gue tahu dari mana..” Anneke memotong cepat ketika bibir Lavie terangkat
siap bicara. “Selebrasi terakhir dia, dan gue pingin lo liat, Vie..”
Untuk terakhir kalinya, Lavie membatin.
Seumur hidupnya Lavie belajar untuk mandiri. Tidak mudah
mengharapkan bantuan orang lain saat ia rasa ia masih mampu melakukannya
seorang diri. Dalam masalah apapun. Dalam menghadapi apapun. Menjadi
satu-satunya anak perempuan di tengah 5 bersaudara dan empat kakak laki-laki
membuatnya sedikit tertempa seperti mereka.
Termasuk masalah perasaan.
Lavie ingin sekali mematahkan stigma wanita adalah makhluk
yang mengedepankan perasaan di atas segalanya. Ia ingin membuktikan logikanya
masih bekerja dengan seimbang dengan perasaannya. Dalam mengatasi perasaannya
terhadap Arga pun seperti itu.
Walau kadang ia terpukul jatuh merasa tak punya harapan
dengan sosok Arga, Lavie berusaha sebisa
mungkin tak menampakkannya. Pada siapapun.
Jadi saat ini di tengah aula convention centre Savoy-Homann
bidakara hotel, di tengah riuh rendah para tamu undangan memberikan ucapan
selamat pada spesialis bedah yang baru disumpah, logika Lavie menyuruhnya
kembali, pergi.
“Jangan kabur, Vie..” perintah Anneke, ketika memandang
Lavie yang wajahnya memancarkan dengan gamblang niat hatinya.
Saat itulah Lavie luruh, “Nggak bisa, Ann.. please..”
Sendiri memang kadang memilukan. Tapi untuk Lavie, mengakui
rasa yang sampai kapan pun nggak akan pernah terbalas, itu lebih menyakitkan.
song The fear you won't fall performed by Joshua Radin
babblesabout:
shortstories,
some unfinished prompt of my stories
Senin, 23 April 2012
pergeseran rasa
“Tunggu, aneh deh, gue, Hanom lo bilang pecicilan, tapi kata
lo dia nggak menarik. Sementara Igna yang kalem itu lo bilang juga nggak
menarik. Jadi definisi menarik yang kayak gimana, sih, yang lo cari, Ke?”
daerah di antara kedua alis Ika mengkerut saat menanyakan itu padaku. Sementara
aku cuma bisa membalas dengan senyum-senyum kecil.
Aku mendesah, sibuk memikirkan jawaban yang pas agar Ika
nggak melulu mencecar dengan pertanyaan seputar kriteria cowok menarik menurut
seorang Kemuning Pramudhita. Aku.
“Hmm, penentuan kata menarik itu seperti
sindrom yang punya banyak gejala, Ka. Dia punya banyak sebab kenapa dia bisa
disebut menarik.
Gue nggak menemukan sisi menarik dari Hanom karena dia
pecicilan. Tapi kalau Igna yang nggak pecicilan juga gue bilang nggak menarik
karena ada hal lain dalam diri Igna yang gue temukan nggak menarik. That
simple. Satu kriteria nggak melulu memukul rata definisi atraktif buat gue.
Lagian kan, lo yang naksir si Igna, bukan gue. Jelas lah buat gue si Igna nggak
menarik”
“Ah, another theory of yours itu lah, Ke, yang bikin lo
jomblo sejak Firaun puber.” Keluh Ika sambil menutup netbook-nya dan beranjak
pergi dari sisi favorit kami di Perpustakaan.
Aku tak langsung mengekor Ika pergi. Aku ingin berdiam diri
sejenak di sini. Sendirian.
Sedikit banyak juga memikirkan ucapan Ika.
Perpustakaan hampir kosong di lantai dua, dimana sisi
favorit aku dan Ika berada. Di meja baca di pinggir jendela yang
melatarbelakangi pemandangan di sisi utara kampus.
Di sini aku bisa memandang langsung gedung megah fakultas
kedokteran yang beken di kampus kami. Tempat dua nama yang disebutkan Ika tadi
berguru. Hanom dan Ignasius. Dua cowok senior yang berjarak dua tahun di atas
kami.
Ignasius adalah cowok yang Ika taksir sejak semester kemarin.
Tampang geek dengan pembawaan kalem
dan aksen jawa yang lumayan kentara. Sedang Hanom..
Hanom adalah sahabat SMA Ika yang awalnya jadi musuh
bebuyutanku. Dimana ada Hanom dan Kemuning, disana ada noisy banter yang parah. Cela-celaan, saling maki. Only joking,
surely. Tapi kami berdua terkenal sebagai minyak dan air.
Malangnya, Ika melihat ini sebagai hal yang lucu. Dia kerap
mengingatkan kalau terlalu benci sampai musuhan begitu sama orang, bisa jadi
lama-lama perasaan bisa bergeser jadi suka. Apalagi menurut Ika, raut dan garis
wajah kami berdua agak mirip. Sesuatu yang hampir serupa adalah tanda berjodoh
dalam kamus Fransiska Pribawanti.
Awalnya sih, aku cuih-cuih ya sama pendapat Ika yang nggak
jelas itu. Tapi saat lama nggak bertemu Hanom dan mulai kangen dengan noisy
banter kami, aku jadi lumayan waspada. Jangan-jangan pergeseran perasaan yang
dibilang Ika itu mulai terjadi.
Dan makin lama, memang banter
kami berdua mulai menghilang. Hanom sibuk dengan skripsi, tugas akhir dan
persiapan ko-ass. Aku sibuk dengan perangkat laboratorium dan persiapan praktik
lapangan. Mungkin karena kesibukan itu, dalam pertemuan yang jarang terjadi,
kami lebih banyak saling diam. Tak banyak bicara, tak saling mencela juga. Tak
seperti dulu.
Dan belakangan, aku jadi kangen. Namun tentu hal ini nggak
bisa aku ceritakan pada Ika. Aku nggak siap menerima mimik ‘apa-gue-bilang’
Ika.
Lagipula, aku nggak benar-benar mengerti dan tahu sejauh
mana pergeseran perasaan ini.
Yang pasti, aku memang mengakui ada perasaan yang salah tiap
kami akhirnya bertatapan.
Aku takut rasa ini bergeser terlalu jauh.
Rabu, 14 Maret 2012
the birthday girl
Aku kangen Dipa. Ingin berkilah aku kangen dia sebatas sahabat yang rindu saat keduanya terpisah samudera dan benua. Tapi di satu sudut hati yang terdalam, aku tahu ini lebih dari itu.
Tahun lalu kami sempat bertemu. Tanpa janjian sebelumnya. Tepat di sini. Foodcourt Istana Plaza di depan stall mie hot plate. Menu favoritmu di sini.
Buatku, momen ulang tahun adalah momen me-time. Berkontemplasi, menyendiri, apapun itu istilahnya. Berbekal novel dan HP mini netbook kesayangan, aku nongkrong di food court salah satu pusat perbelanjaan beken di Bandung. Sepenuh hati berharap tidak bertemu atau berpapasan dengan sosok yang ku kenal. Aku malas berbasa-basi. Walaupun hari itu hari ulang tahunku. Orang-orang bilang kamu akan dilimpahi ribuan doa di hari itu. Doanya akan kuamini, sungguh. Tapi tidak untuk percakapan panjang yang menguras waktu.
Aku ingat betul halaman berapa yang sedang ku baca saat itu, dan scene apa yang tergambarkan di dalam lembaran novel, saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Woyy!” ia berseru. Suaranya maskulin. Jenis yang betah kudengarkan bercerita lama.
Suaramu, Dipa.
Kamu membawa nampan berisi dua mie hot plate pedas favoritmu. Menyodorkannya ke depanku sambil menggeser sedikit netbook yang kuabaikan.
“Happy Birthday!”
Sebelum aku sempat merespon kamu sudah berbalik lagi, kembali ke stall mie hot plate, mengambil dua gelas softdrink.
“Lain kali duduknya di sana aja, Ke..” katamu agak ngos-ngosan sambil menunjuk meja yang terletak tepat di depan stall mie hot plate. “Capek juga bolak balik kemari sambil nenteng-nenteng ginian..” kamu menunjuk ke arah dua nampan yang baru kau letakkan.
“Hah?”
Kamu menggeleng, “Ckck, makasih kek.. udah dibawain makanan begini. Harusnya aku yang ditraktir tau! Kan kamu yang lagi ulang tahun..”
“Dipa, nggak jaga?” itu satu-satunya respon tercepat yang bisa kusampaikan.
Kamu mencibir, “Ya kalau gue ada di sini berarti gue free, nonong!!”
“Terima kasih, Dipa..” senyumku sama sekali tidak artifisial. Dan aku siap untuk sebuah konversasi panjang di hari sakral itu bersama kamu. Sebagai sahabat, tentu.
Itu dulu, tahun lalu. Kamu sedang menjalani semester akhir residen sebagai Chief, tingkatan terakhir sebelum kamu menghadapi ujian terakhir program pendidikan dokter spesialis. Sebelum kamu resmi bertitel Sp. B.
Itu dulu, tahun lalu.
Sebelum kamu memutuskan menjadi volunteer bulan sabit merah ke Libya. Ikut serta sebagai tim medis di bawah perlindungan Dewan Keamanan dan WHO.
Di tengah bising lalu lalang aku membayangkan apa yang kamu hadapi tiap hari. Ancaman pecahnya bentrokan, riuh rendah demonstran yang lelah dan penuh amarah, jerit kesakitan para korban penggulingan rezim. Kamu disana, menjadi saksi sejarah runtuhnya sebuah lakon kepemimpinan yang dulu begitu diagungkan. Ya, sekarang kamu di sana.
Dipa, padahal hari ini hari ulang tahunku.
No phone call, or even simple text message.
Aku tahu egois membayangkan ia bisa mengontakku di tengah chaos seperti itu. Tapi, aku kangen kamu, Dipa. Kangen konversasi kita seperti tahun lalu.
Sekarang aku duduk di sini. Di meja yang waktu itu kamu tunjukkan. Meja favoritmu. Meja yang kita sambangi hampir sebulan sekali dalam 6 bulan terakhir. Sebelum kamu berangkat ke Libya.
Berada di sini beberapa jam lebih awal dibandingkan jam kita bertemu tahun lalu. Hari ini aku tak seberuntung tahun lalu. Selain tidak ada Dipa, hari ini aku dapat giliran shift sore.
Jadi aku hanya bisa mampir di sini menjelang tengah hari.
Tak apa, demi me-recall momen bersama Dipa tahun lalu.
Di ruang sama, hari yang sama, mie hot plate yang sama.
Dipa, di manapun kamu sekarang, ucapkan selamat ulang tahun untukku. Seperti tahun lalu.
Minggu, 25 Juli 2010
The Birthday Girl : Sketch one
Ada sesuatu yang merasukinya kala menatap suasana kelabu di balik pintu kaca otomatis. Sebuah momen di masa lalu yang selalu memerangkapnya tanpa ampun. Membuatnya terpaku di tengah-tengah lobby kantor seperti gadis bodoh yang seenaknya melamun di pusaran riuhnya arus karyawan yang meluncur keluar seusai jam pulang.
Tapi sekali lagi, hujan yang mengancam di balik suasana kelabu itu memberinya waktu untuk mengurai sebuah kenangan lama.
Untaian peristiwa yang terjadi jauh sebelum ia bekerja di gedung perkantoran berlantai 22 ini, menyibukkan diri tiap senin hingga jumat dalam sebuah cubicle sejak jam 07.00 pagi hingga usai Maghrib, bahkan lebih larut jika ia harus lembur.
Tiap pulang setelah hari gelap, momen masa lalu itu tak pernah menggodanya. Merayunya untuk kembali melamun. Kenangan itu memilih menenggelamkan diri di balik selimut hangat di sudut benak. Dan akan keluar dari tidur panjang pada saat yang diinginkan. Tidak pernah terjadi dalam tiga tahun terakhir ini.
Namun di sore kelabu menjelang senja ini, momen itu seolah menggeliat dan memilih untuk merangsek keluar.
Ia tak lagi peduli pada tubuh-tubuh yang lalu lalang di sekelilingnya, pula pada gerutuan-gerutuan keras akan posisinya yang menghalangi langkah-langkah mereka. Ia juga tak peduli bahwa kelabu itu sebentar lagi akan memuntahkan hujan hingga ia harus bersiap basah kuyup sesampainya di kosan nanti. Atau pun bahwa ini adalah waktu yang langka di tengah jam kerjanya yang luar biasa panjang dan melelahkan, saat ia bisa pulang lebih awal dan menghibur dirinya sendiri dengan pergi belanja atau nonton film baru di Blitz megaplex.
Tidak. Ia masih terpaku di tengah lobby, walau perlahan mampu meraih kembali kesadaran atas suasana sekitar dan melangkah keluar dengan pelan. Tapi aura kelabu di balik pintu kaca otomatis itu masih menghipnotisnya. Mengingatkannya pada dirinya 3 tahun lalu.
Dan tiba-tiba saja sosok gadis muda kurus, berkeringat dan buta mode—terlihat dari busana yang dikenakan seperti tak tersentuh teori mix and match paling dasar sekalipun—melintas mengayuh sepeda mini vintage berkeranjang depan yang dipenuhi rangkaian bunga rose dan lily. Rambut sebahunya berkibar, kusam berlatar kelabu dengan rintik kecil gerimis yang mulai berkecipak di tubuhnya. Tangannya mulai gemetar kepayahan karena terlampau erat menggenggam kemudi, pun kakinya yang bergetar aus karena telah mengayuh seharian. Tapi wajah gadis itu memancarkan tekad keras, untuk mengantar pesanan rangkaian bunga terakhir itu pada seseorang di seberang jalan sana, yang menanti kelopak-kelopak cantik itu untuk diserahkan pada seorang wanita yang hendak ia lamar malam nanti.
Romansa yang mengetuk kalbunya di tengah kegigihannya mengayuh. Satu hal yang ia dambakan bisa hadir dalam kehidupannya yang seolah sama tak menariknya dengan penampilannya.
Bayangan familiar itu tak hilang dari matanya walau kakinya telah melangkah keluar ke teras gedung saat pintu kaca otomatis itu membuka dan memberinya ruang untuk menikmati dinginnya angin senja yang mengisi latar kelabu di hadapannya.
Ekor sepeda mini itu menyisakan kerlipan aneh, pantulan dari sisa matahari terbenam yang mengintip dari celah gumpalan awan kelabu, saat akhirnya kesadaran kembali menderas mengisi benaknya lewat sebuah tepukan pelan namun tegas di bahunya. Seulas senyum hangat yang telah menghiasi harinya belakangan ini muncul ketika ia menoleh pada sosok yang menepuk bahunya tadi.
Guratan lelah tak mampu menyembunyikan pancaran ketertarikan dan kekaguman di mata lelaki itu saat menatapnya. Padahal ia tak mampu membalas dengan intensitas yang sama. Ia belum sanggup.
“Yudhis..” bibirnya dengan lirih berbisik. Reflek.
Senyum lelaki yang dipanggil Yudhis itu makin merekah mendengar sapaan cepat itu. Membuatnya merasa familiar di mata si gadis.
“Pulang bareng, Kania…” ajak Yudhis tanpa basa-basi sedetik kemudian.
Ia, Kania, tertegun sejenak. Sambil menoleh ke spot terakhir bayangan gadis kusam bersepeda mini bisa dilihatnya. Bayangan itu menghilang. Tentu. Kenyataan menelannya kembali dan menaruhnya ke tempat yang seharusnya. Sosok dirinya di masa lalu.
“Kania…?”
“Ya?”
“Mau pulang bareng?” Yudhis menegaskan ajakannya melihat gestur Kania yang ambigu.
Sekali lagi mata Kania tertumbuk pada pancaran penuh harap yang menjulang di depannya. Tapi bayangan yang mengetuknya tadi membuat Kania mengingat sebuah tempat yang lama tidak ia kunjungi. Dan hatinya tergerak untuk berkunjung senja ini. Itu berarti Kania harus menolak ajakan Yudhis. Ya.
“Kita bisa makan malam dulu sebelum balik. Dan cari kado. Kamu ingin hadiah apa? Nggak apa, kan, kalau aku kasih lebih awal, dan tanpa kejutan?” Yudhis mencoba meyakinkan Kania lagi. Membuahkan kedipan terkejut dari gadis itu. Bertanya-tanya kado apa yang Yudhis maksud.
“Kado??” tanya Kania bingung.
“Besok? April? Dua puluh?” pancing Yudhis, mengira Kania pura-pura lupa. Tapi melihat rona bingung Kania yang tak juga hilang Yudhis akhirnya mengerti, “ya ampun Kania. Bukannya dua puluh April itu hari Ulang tahunmu, ya?”
Tatapan bingun Kania berangsur menghilang, walau ia masih tidak yakin kalau tanggal itulah yang akan menyongsongnya besok. Apakah aktivitas dan kesibukan pekerjaannya terlalu menyita perhatian Kania hingga ia amnesia hari? Kania menghela nafas, mulai mencerna maksud ajakan Yudhis.
“Maaf. Lain kali, ya, Yud..” tolak Kania halus.
Kedua alis Yudhis berkerut, bertemu di satu titik di awal lekukan tulang hidung. “Kamu ada acara lain?” ia bertanya ragu, ingin tahu namun di saat yang sama khawatir dicap terlalu ikut campur.
Kania tersenyum mengerti, ia lalu menggeleng pelan dan mulai melangkah menembus gerimis.
“Sampai nanti, Yudhis…”
Lambaian singkat jemari Kania adalah hal terakhir yang Yudhis tatap sebelum sosok ayu itu menghilang di tikungan jalan.
“Sampai nanti, Kania. Selamat Ulang Tahun…” bisiknya lirih, sebelum akhirnya beranjak pergi.
Tapi sekali lagi, hujan yang mengancam di balik suasana kelabu itu memberinya waktu untuk mengurai sebuah kenangan lama.
Untaian peristiwa yang terjadi jauh sebelum ia bekerja di gedung perkantoran berlantai 22 ini, menyibukkan diri tiap senin hingga jumat dalam sebuah cubicle sejak jam 07.00 pagi hingga usai Maghrib, bahkan lebih larut jika ia harus lembur.
Tiap pulang setelah hari gelap, momen masa lalu itu tak pernah menggodanya. Merayunya untuk kembali melamun. Kenangan itu memilih menenggelamkan diri di balik selimut hangat di sudut benak. Dan akan keluar dari tidur panjang pada saat yang diinginkan. Tidak pernah terjadi dalam tiga tahun terakhir ini.
Namun di sore kelabu menjelang senja ini, momen itu seolah menggeliat dan memilih untuk merangsek keluar.
Ia tak lagi peduli pada tubuh-tubuh yang lalu lalang di sekelilingnya, pula pada gerutuan-gerutuan keras akan posisinya yang menghalangi langkah-langkah mereka. Ia juga tak peduli bahwa kelabu itu sebentar lagi akan memuntahkan hujan hingga ia harus bersiap basah kuyup sesampainya di kosan nanti. Atau pun bahwa ini adalah waktu yang langka di tengah jam kerjanya yang luar biasa panjang dan melelahkan, saat ia bisa pulang lebih awal dan menghibur dirinya sendiri dengan pergi belanja atau nonton film baru di Blitz megaplex.
Tidak. Ia masih terpaku di tengah lobby, walau perlahan mampu meraih kembali kesadaran atas suasana sekitar dan melangkah keluar dengan pelan. Tapi aura kelabu di balik pintu kaca otomatis itu masih menghipnotisnya. Mengingatkannya pada dirinya 3 tahun lalu.
Dan tiba-tiba saja sosok gadis muda kurus, berkeringat dan buta mode—terlihat dari busana yang dikenakan seperti tak tersentuh teori mix and match paling dasar sekalipun—melintas mengayuh sepeda mini vintage berkeranjang depan yang dipenuhi rangkaian bunga rose dan lily. Rambut sebahunya berkibar, kusam berlatar kelabu dengan rintik kecil gerimis yang mulai berkecipak di tubuhnya. Tangannya mulai gemetar kepayahan karena terlampau erat menggenggam kemudi, pun kakinya yang bergetar aus karena telah mengayuh seharian. Tapi wajah gadis itu memancarkan tekad keras, untuk mengantar pesanan rangkaian bunga terakhir itu pada seseorang di seberang jalan sana, yang menanti kelopak-kelopak cantik itu untuk diserahkan pada seorang wanita yang hendak ia lamar malam nanti.
Romansa yang mengetuk kalbunya di tengah kegigihannya mengayuh. Satu hal yang ia dambakan bisa hadir dalam kehidupannya yang seolah sama tak menariknya dengan penampilannya.
Bayangan familiar itu tak hilang dari matanya walau kakinya telah melangkah keluar ke teras gedung saat pintu kaca otomatis itu membuka dan memberinya ruang untuk menikmati dinginnya angin senja yang mengisi latar kelabu di hadapannya.
Ekor sepeda mini itu menyisakan kerlipan aneh, pantulan dari sisa matahari terbenam yang mengintip dari celah gumpalan awan kelabu, saat akhirnya kesadaran kembali menderas mengisi benaknya lewat sebuah tepukan pelan namun tegas di bahunya. Seulas senyum hangat yang telah menghiasi harinya belakangan ini muncul ketika ia menoleh pada sosok yang menepuk bahunya tadi.
Guratan lelah tak mampu menyembunyikan pancaran ketertarikan dan kekaguman di mata lelaki itu saat menatapnya. Padahal ia tak mampu membalas dengan intensitas yang sama. Ia belum sanggup.
“Yudhis..” bibirnya dengan lirih berbisik. Reflek.
Senyum lelaki yang dipanggil Yudhis itu makin merekah mendengar sapaan cepat itu. Membuatnya merasa familiar di mata si gadis.
“Pulang bareng, Kania…” ajak Yudhis tanpa basa-basi sedetik kemudian.
Ia, Kania, tertegun sejenak. Sambil menoleh ke spot terakhir bayangan gadis kusam bersepeda mini bisa dilihatnya. Bayangan itu menghilang. Tentu. Kenyataan menelannya kembali dan menaruhnya ke tempat yang seharusnya. Sosok dirinya di masa lalu.
“Kania…?”
“Ya?”
“Mau pulang bareng?” Yudhis menegaskan ajakannya melihat gestur Kania yang ambigu.
Sekali lagi mata Kania tertumbuk pada pancaran penuh harap yang menjulang di depannya. Tapi bayangan yang mengetuknya tadi membuat Kania mengingat sebuah tempat yang lama tidak ia kunjungi. Dan hatinya tergerak untuk berkunjung senja ini. Itu berarti Kania harus menolak ajakan Yudhis. Ya.
“Kita bisa makan malam dulu sebelum balik. Dan cari kado. Kamu ingin hadiah apa? Nggak apa, kan, kalau aku kasih lebih awal, dan tanpa kejutan?” Yudhis mencoba meyakinkan Kania lagi. Membuahkan kedipan terkejut dari gadis itu. Bertanya-tanya kado apa yang Yudhis maksud.
“Kado??” tanya Kania bingung.
“Besok? April? Dua puluh?” pancing Yudhis, mengira Kania pura-pura lupa. Tapi melihat rona bingung Kania yang tak juga hilang Yudhis akhirnya mengerti, “ya ampun Kania. Bukannya dua puluh April itu hari Ulang tahunmu, ya?”
Tatapan bingun Kania berangsur menghilang, walau ia masih tidak yakin kalau tanggal itulah yang akan menyongsongnya besok. Apakah aktivitas dan kesibukan pekerjaannya terlalu menyita perhatian Kania hingga ia amnesia hari? Kania menghela nafas, mulai mencerna maksud ajakan Yudhis.
“Maaf. Lain kali, ya, Yud..” tolak Kania halus.
Kedua alis Yudhis berkerut, bertemu di satu titik di awal lekukan tulang hidung. “Kamu ada acara lain?” ia bertanya ragu, ingin tahu namun di saat yang sama khawatir dicap terlalu ikut campur.
Kania tersenyum mengerti, ia lalu menggeleng pelan dan mulai melangkah menembus gerimis.
“Sampai nanti, Yudhis…”
Lambaian singkat jemari Kania adalah hal terakhir yang Yudhis tatap sebelum sosok ayu itu menghilang di tikungan jalan.
“Sampai nanti, Kania. Selamat Ulang Tahun…” bisiknya lirih, sebelum akhirnya beranjak pergi.
babblesabout:
shortstories,
some unfinished prompt of my stories
Kamis, 03 Juni 2010
Hyrax
Kami terbentuk akibat represi zaman dan peradaban terhadap hak-hak yang lemah dan terpinggirkan. Kami menyusup lewat kanal-kanal sempit pori-pori tanah, lapisan semen tebal dan lembapnya malam di tengah rawa. Kami terbangun saat teriakan pilu ketidakadilan membahana. Kami datang tanpa suara, seperti kepakan sayap sang predator angkasa mengecap aroma mangsa. Kami selembut helai-helai bulu angsa yang bertebaran di lapisan tanah yang kasar, siap mengulurkan tangan dan berbagi pada siapapun yang membutuhkan. Kami memang terberai saat sinar tinggi di tengah hari. Namun kami serekat rantai titanium dalam kelam. Kami adalah hyrax, penentang ketidakadilan.
Langganan:
Postingan (Atom)