Selasa, 10 Desember 2013

Lim Kim - Happy Me (original version by ECO) ost Reply 1994


Here the English translation lyrics :

I met you after going/through several break ups/Maybe that’s why I was/more scared to start with you/But getting to know someone/and loving someone/How great would it be if you were/the last person to do so? Like me/Even during my busy day, when/I hear your voice for a moment/I wonder if you feel/like you’re with me too
If only you were there when/I come home every night/Then your heart could rest in/my embrace after a long day/Just love me like you love me/now, if only you don’t change/The person who could have all/of me is you,/I won’t be shaken
Sometimes, you/feel sorry about/your future that’s not set/But don’t forget, I love you, if/I’m with you, it’s a happy me Even during my busy day, when/I hear your voice for a moment/I wonder if you feel like/you’re with me tooIf only you were there when/I come home every night/Then your heart could rest in/my embrace after a long day/Just love me like you love me/now, if only you don’t change/The person who could have all/of me is you,/I won’t be shaken
Sometimes, you/feel sorry about/your future that’s not set/But don’t forget, I love you, if/I’m with you, it’s a happy me I want to throw away the love that/the world decided upon with/many expectations Like your/heart, I want to always stay/at the same place And be another/you, for the precious you Just love me/like you love me/now, if only you don’t change/The person who could have all/of me is you, I won’t be shaken/Are you feeling sorry about/your future that is not set yet?You’re not alone now/Don’t forget, if I’m with you,/it’s a happy me 
This song should be having sort of love-relieved and life-cherised feeling in it. This should be one happy song. Just like the title.
Unfortunately, i don’t feel it. I read the lyrics, i know the meaning of those words. And indeed, it is a happy song. But the thing is, i always get teary everytime hearing this song. especially this Lim Kim version.

After going through a long and painful weekend with Answer Me 1994 episode 14 and 15, you would feel what i feel. Moreover if you are team Chilbong. You must understand what i babble about.

God, drama, why..
Why this series should be soo good that i might feel that my life peaks on weekend lately.

And, why.. why this chilbong character should be soo great even after he got so painfully heartbreaking and bittersweet first love..

Why..

Damn this drama got me so emotional that i think i am half psychotic for rooting for chilbong so much.

Haha.

Terlepas dari drama stuff and chilbongie-possessed self, lagu ini  punya sisi nostalgic yang kuat. You know, that feeling, saat kamu melintas di koridor SMA yang lama kamu tinggalkan dan sejenak menoleh ke deretan bangku di dalam kelas dimana sejuta memori bersarang di sana. kamu ingat obrolan-obrolan beragam—dari guru galak, senior ganteng, latihan ekskul, drama roman di dalam kelas, sampai update gosip terbaru di lingkungan sekolah. Atau kamu akan ingat keriuhan kantin di jam istirahat, saking penuhnya kamu sampai bisa mengunyah snack sambil berdiri, membaca catatan-catatan random di mading sekolah. Or, even, your memory of a first love too.

I played this song a lot in the rushing train on the way back home.

You know, as the farms, and fields, houses and trees ran passing by, you suddenly remember about rainy days in the youth when the soil smelled so fresh, or words—the painful and sweet ones, or faces you cherised the most, or the long lost love.


In the language i don’t even understand, this song is powerful enough to knock my sense.

And makes me cry again.

Senin, 05 Agustus 2013

Been awhile

Hiatus ini yang terlama. Saya tenggelam dalam kelelahan pekerjaan dan keengganan untuk menulis lagi. Tho, sebenarnya saya kangen sekali.
Berdiam di depan layar komputer. Menunduk sambil tekun melukis kata di dalam jurnal. Kebahagiaan personal yang kadang nggak semua orang bisa mengerti.

Then now, i'm home.
Bersiap menyambut hari raya dalam nuansa masa kecil penuh nostalgia. Siang terik penuh teriakan bocah-bocah bermain. Malam dengan langit jernih penuh taburan bintang berkerlipan malu-malu.
Alhamdulillah.
How's life at you?  


Kamis, 16 Mei 2013

indrayanti, suatu hari..

Perjalanan ini berawal dari playful banter kami—aku, sita dan novi, di suatu siang beraroma belerang saat kami mencoba keluar dari keriuhan kota di hari minggu dan minggir sejenak dari tuntutan kerjaan.

I thought it might not gonna happen soon, me travelling again to Yogyakarta. But, it happened actually.

Jadilah, akhir April, dengan modal seadanya, saya meluncur ke Jogja.

To be honest, there’s something familiar about Jogjakarta in my eyes. Which i always wonder what it is. The heat? Becak-becak? Aroma kultur keraton yang kuat? Atau aura lain tentang kota ini yang sukses membuat saya kerap rindu untuk kembali.

Pada trip ‘maksa’ kali ini, saya diajak Sita mengunjungi pantai Indrayanti. Salah satu sisi cantik dari beberapa lainnya di garis pantai Gunung Kidul.


Tepus, Wonosari.
Siapa sangka di balik Gunung Kidul yang terkenal kering dan nggak bersahabat itu tersimpan permata pariwisata yang belum banyak tersentuh media.  

I knew about these beaches from the last pages of Tasaro GK’s novel : Galaksi Kinanthi. Yang salah satu latar tempatnya memang di daerah Gunung Kidul. Sejak baca novel itu, ingin rasanya menelusuri garis pantai Gunung Kidul : Baron, Kukup, Sundhak, Wedhi Ombo, Drini dll.

One step at a time, Ve.

We reached Indrayanti after 3 hours of motorbike ride.
Kelelahan yang langsung terbayar aroma matahari bertemu dengan lembut pasir pantai warna khaki. Mereka diterjang ombak nakal laut selatan yang galak dan nggak bisa diajak bercanda. Tapi ombak itu.. andai saya surfer pasti jejingkrakan lihat ombak besar bergulung-gulung cantik seperti itu.


si karang lintah telungkup



maksud hati capturing ombak tapi apa daya amateur view ini yang tercapture, but, isn't it pretty? :)
We played awhile.. the beach wasn’t quite packed karena kebanyakan pengunjung adalah warga lokal Jogja dan sekitarnya. Panas. But worth it. Sempat naik ke atas karang—yang buat saya bentuknya mirip lintah telungkup, dan bisa glance around ke beberapa pantai yang membentang sepanjang garis selatan Gunung Kidul ini.


Indrayanti, dari atas karang lintah telungkup
indrayanti, suatu hari..
  Cantik. And quite untouchable.

Terima kasih, Sita, for this rare chance. And can’t wait for another unexpected trip or the opportunity to finally comeback here, someday. And explore other beauties from the Southern part of Mighty Yogyakarta.

A city that never fails to surprise me.

Selasa, 07 Mei 2013

keeping them in

meninggalkan April yang sepi kata walau sarat momen berharga.

i was just keeping them in,
not keeping them written.

walau pada akhirnya saya menyesal karena ada begitu banyak peristiwa yang akan terlupakan nantinya.

April, so long.

please, please, let yourself be recalled once or twice,
because i need you.

Senin, 17 Desember 2012

6 years and getting older...


6 years.

And i finally realize that i’m aging so fast. Been 6 years since i was titled as highschool student.

Yes, it’s always interesting to come home for a break from work. There are always stories. About the heat. Short yet noisy and annoying traffic. Familiar sight that likely to change bit by bit.

Kota kecil ini, seperti yang selalu saya bilang, selalu memaksa saya untuk mengamati, untuk berkontemplasi sesaat. Warming up my brain yet refreshin’ it at the same time.
My favorite activity during my walk home. Thinking. Fantasizing. Imagining.

Dan sore ini, di akhir hari-hari cuti saya di kota kecil ini, saya mengunjungi almamater SMA.


Banyak yang berubah, seperti warna tembok gedung sekolah yang kini terlapisi warna hijau seluruhnya. Pagar yang diganti lebih tinggi. Masjid sekolah yang sedang dalam proses pembangunan, yang walaupun belum sempurna terbangun, ia terlihat megah untuk ukuran masjid dalam lingkungan sekolah.

Ruangan kelas yang terpasang pendingin udara. Which makes me wondering, how could they proudly called themselves now, a green school if their use of electricity is oversized.

While it’s nice to see lapangan basket/futsal yang dulu banjir tiap hujan dan bikin kolam mini di sana-sini, sekarang terlindungi kanopi besar, menjadikannya terlindungi dari hujan dan mengurangi panas. I was chuckling that time i saw that canopied field, wondering.. kasian banget ya, anak-anak Pasus sekarang nggak punya alasan lapangan banjir atau hujan untuk sejenak mangkir latihan. Tapi betapa enaknya mereka nggak perlu berpanas-panas ria tiap latihan rutin upacara atau menjelang 17 Agustus.


Oh, dan sudah ada connector path di lantai 2 untuk tiap gedung kelas. Kebayang, dulu kalau mau ke gedung sebelah/seberang harus muter turun tangga ke koridor bawah lalu naik lagi di gedung yang dituju.


See, it’s way so much different. As years passed, my old school—as well as this hot-humid little town, has changed. Mempercantik diri, ingin ikut bersisian dengan modernisasi, berniat memperbaiki.

But, to be honest, i miss my old highschool the way it used to be. Old buildings. Old classes. Spooky corridors. Haha. Old time.

And a long lost unsaid love.

Sabtu, 17 November 2012

he's the owlsomeness!!

i still remember clearly, on October 28th, last year, saya cuma bisa ngelamun di kamar ngebayangin ingar bingar crowd di venue Tennis Indoor Senayan.
Everybody had so much fun watching Adam Young sang in front of their eyes. It was a great envy to those who attended the show. Really. jadi, saya berikrar, niat untuk nabung sejak dini barangkali saya punya kesempatan lain untuk nonton Owl City langsung. Dan taraaa.. Alhamdulillah, this tribune ticket was in my grasp, right at the first opening of tickets sale.  


Owl City The Midsummer Station Jakarta Concert. That was the theme of this year's concert. Album ini isinya cukup berbeda dibandingkan dengan materi album Owl City terdahulu.
But still, kamu masih bisa mengenali ciri khas Adam Young di dalamnya. Pop electronica dengan lirik-lirik motivasional khas dia yang moving banget itu. He's still inspirational, one of my role models in life.


And it was my first live concert! The trip dari Bandung, the whole anticipation. Unexpected happenings. A rushing yet emotional moments through harsh afternoon life in the beloved capital. What a once-in-a-lifetime experience yang nggak akan terlupakan seumur hidup.


Dan performance Owl City?
OWLSOOOMMEEE!!!!
22 lagu dibawakan secara kontinyu dari Dreams and Disasters sampai Gold sebagai penutup. Seumur hidup saya nggak akan pernah melupakan betapa berartinya music intro dari Dreams and Disasters sebagai pengiring kemunculan Adam Young di atas panggung. He's as charming, and owlsome, and lovely as usual. Dan menonton stage performance dia itu adiktif.
I wanted him singing more songs. lebih lama dari 90 menit itu.  


then i love him more and more and more! :)

Senin, 24 September 2012

my Grey. Mine.

Panas menyengat membelai wajah. Namun pengaruhnya tak seberapa besar seperti waktu aku menjadi manusia normal dulu. Ini mungkin keistimewaan pelindung : imun terhadap perubahan cuaca. Setidaknya di saat sesi latihan seperti ini.

Walaupun dikondisikan seperti aslinya, dengan temperatur yang menyesuaikan dan sebagainya, tubuh kami—para pelindung—akan belajar sedikit demi sedikit beradaptasi. Kami akan merasakan sengatan panas, menusuknya dingin, tetes basah hujan, sedetik dua detik rasa tak nyaman akan merayap, namun selanjutnya tubuh dengan sendirinya akan menyesuaikan. Sosok di depanku ini menginformasikan hal tersebut barusan, ketika kutanyakan kenapa aku tak benar-benar kepanasan.

Kami sedang berada di satu titik di jalanan kosong salah satu interstate sepi di selatan U.S. menjalani sesi latihan adaptasi. Hanya kami berdua. 

Gregori mengawasi dari entah dimana tentu saja, namun ia tak menampakkan diri. 
Jadi, yah, berdua. Cowok bermata kelabu ini masih asyik menerangkan mekanisme perubahan termoregulasi pada tubuh seorang pelindung. Bla, bla, bla. Dan aku, dengan tak menghiraukan ucapan yang keluar dari bibirnya, sibuk mengamatinya.

 “You’re so Asia,you know..” 

“Pardon?” rautnya agak kaget karena disela di tengah-tengah penjelasan. 

“Wajah kamu itu saangat Asia. Bahkan jelas jelas garis wajah Asia Tenggara. Jadi mau sekental apapun aksen English British-mu itu, kamu nggak bisa menipuku.

” Dahinya berkerut, menampilkan raut tak mengerti. Atau pura-pura tak mengerti. 

“Dan kamu itu mengingatkanku pada seseorang..” 

Dia merasakan itu, aku melihat dari pancaran matanya bahwa dia tahu apa yang aku bicarakan—dirinya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan, juga topik pembicaraan. 

“Kalau kamu sudah mengerti kenapa kamu tak merasakan perubahan signifikan terhadap temperatur, sebaiknya kita mulai sesi latihan hari ini.” 

“Kamu mengingatkanku pada Raka.” 

Dan ia sontak membeku. Menjawab rasa penasaran yang selama ini mengendap di benakku sejak pertama kali bertemu dengannya. 

“Mungkin karena kemiripan nama. You know, Raka dan Arakata.” 

Tahu bahwa itu salah satu usahanya untuk berkilah, aku hanya tersenyum. “No, it’s more than just a name.” 

Ia masih enggan menatap mataku. “Sebaiknya latihan dimulai.” 

“It’s weird, karena aku menyukai Raka. Dan melihat kembali sosoknya dalam bentuk yang berbeda seperti ini cukup mempengaruhi perasaanku.” Entah dorongan apa yang mendesakku membuat pengakuan seperti itu. Namun tak ada kesan menyesal tersisa. 

Aku memandangnya terpaku. Wajahnya menatap sudut jauh di padang tandus. “Aku mau memanggil Raka, boleh?” lenganku terulur, menangkap kelingkingnya yang terkulai di sisi tubuh. 

Saat itulah ia menoleh, memandangku tajam, “No.. Aku Ara. Arakata.” Persisten, seperti biasa. 
Dan ia menarik lengannya menjauh, namun tatapannya melembut. “I can’t be that.. Your Raka anymore. But i can be your Ara. Your Grey.” 

Benak yang tak seberapa lincah mencerna ini masih sibuk memproses ucapan si ‘kelabu’ tadi. Ya, Gregori pernah bicara padaku suatu waktu, sekali seseorang bertransformasi menjadi kaum kelabu dan mengabdikan dirinya mendampingi seorang pelindung dalam masa pelatihannya, maka ia harus meninggalkan masa lalunya. Seperti seorang pelindung sendiri hidup—meninggalkan masa lalu dalam satu kompartemen yang diam di sudut memori tak terjangkau. 

Setidaknya si kelabu ini ‘milik’ku. Meski ia bukan Raka. 

“My only Grey?” tanyaku mengkonfirmasi. 

Si mata kelabu itu terdiam sesaat, tatapan lembutnya masih terkunci dengan mataku. Lalu dengan mantap ia mengangguk. 

My Grey. My only Grey.