Sabtu, 26 April 2014

i should've known

i'm trying to write again after a loong hell of time. yes, i wrote the previous post to participate in this writing competition sponsored by one bay resort in Bali.

i thought i still embrace that spark in these hands of mine so they could amazingly craft a bundle of words into lines. into story. into things readable enough.

guess, i was wrong the whole time. i lost that spark. lost it a long time ago when i refuse to write for the sake of names and times and exhaustion.

i should've known earlier, there's no achievement retrieved in an instant. people strive for things they yearn so much. me just hoping miracle comes  and shift the result into my grasp. but no, i should've known life doesn't rotate that way.

so, this is the start of me put a first fight out of many that will come onward. i won't go down just by this slight fall. yes, i won't. that 10.000 hours spirit is within me. i'll reach that spark back and let myself shine. one day. yes, one day.



Rabu, 16 April 2014

Terang Sempurna

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 


Terang Sempurna
Tak seberapa nyaman, namun harus tetap tahan selama  6 hingga 7 jam ke depan. 
Peluit bersahutan beberapa kali, kereta lain hendak berangkat sepertinya. Beberapa yang mendahului menyisakan ekor gerbong yang merayap lambat. Perjalanan baru tak selalu menyenangkan tapi harus dilakukan. Kadang. Seperti ini. Seperti aku.
Pijakan kaki telah diatur. Sejak lima menit yang lalu. Saat seorang staf gerbong restoran lewat dan menawarkan diri untuk membantu usaha mempernyaman diri. Ia masih terlihat muda, cukup cantik, kulitnya kuning langsat, sedikit pucat. Mungkin terlalu lama berdiri, terlalu lama terlindung di balik gerbong dan sejuta perjalanan rel itu hingga kecapan matahari di kulitnya begitu tak membekas.
Sebuah pesan masuk ke ponsel beberapa saat lalu, menanyakan keberangkatan. Satu-satunya pesan hingga saat ini, yang peduli bahwa ada perjalanan baru yang akan aku lakukan.
Pesannya simpel. Sudah berangkat? Hati2.
I will. I’ll try to.
Tapi tak kubalas.
Awan kelabu masih mewarnai langit. Tipis. Gerimis. Titik-titik air pun terlihat menghias kaca-kaca jendela gerbong. Membuat efek blurry di sepanjang tatapan mata di baliknya. Pemandangan yang kuharapkan ada di sepanjang perjalanan nanti. Membuatku tak berpikir terlalu banyak karena memandangi hujan cukup melelahkan. Dan melenakan.
Terlena dalam kilasan-kilasan nostalgia.
“Apa? Kamu di Bali? Ngapain? Maen melulu, ih!”
“Hahaha..” tawa renyahnya terdengar begitu adiktif, aku merasa ingin mendengarnya seumur hidup, sepanjang tahun, sepanjang hari. “Ada temen ngajak dapet voucher nginep di hotel di Ubud. Oh, dan maen di Pirates Bay.”
Sounds so much fun on the said list.
“Elo dimana? Bandung keneh?” dia tertawa lagi. Perutku tetiba teraduk semangat. Berjungkir balik riang. Gosh, that laugh.
“Where else? Kantor pusat masih ogah transfer aku kemana-mana.”
“You need some fun. Kabur lah kemari.. ke gue..”
Ajakan yang begitu menggoda. Really. Dia harus mengajak begitu, ya?
Aku merasakan gerbong bergerak pelan menjauhi peron. Lokomotif nampak enggan mengajak ekornya berlari, namun ia tetap pergi.
Hujan juga masih belum benar reda. Titik air masih menghias kaca di samping wajah. Hela nafas ini meninggalkan gugus embun tak berbentuk di atas permukaan bulir-bulir jejak gerimis. Berat jari ini terangkat, mengukir sesuatu di dalam gugusan itu. Satu nama begitu familiar.
-
Ini gila. True insanity.
I’m chasing him, all the way to the island of Gods. To Bali.
“Senyum melulu, lo” di belakang kemudi Wira, lengkap dengan aviator sunglasses kebanggaannya, nyengir penuh arti, “kalap kabur ke Bali, libur cuma sehari doang padahal.. Gila.”
Angin hangat di pagi menjelang siang yang cerah menyapa wajahku di jeep Wira yang ber-kap terbuka ini. Ia seolah membisikkan kebebasan, keberanian.
“Jarang ya, kamu lihat aku rebel begini? All those paperworks be damned, Wira. I get myself a day of bravery.”
Wira terdiam beberapa lama. Serius menyetir. Tapi ada tatap aneh di sana. Raut prihatin? Walau samar dan tenggelam di balik aviator sunglassesnya itu, aku merasakan sesuatu yang tertahan.
“Give yourself a good time. Jangan maksain sesuatu yang akhirnya nggak akan enak. You deserve better, trust me..” ucap Wira ketika ia mengakhiri heningnya.
Dahiku berkerut. Pesan yang aneh. Tentu i’m giving myself a good time. Membiarkan aku memilih cinta yang selama ini mengetuk tak mau berhenti. Membiarkan ia berbicara, dan aku akan bicara hari ini.
“Sure, Wira. Makasih..” aku menepuk bahu Wira pelan, meyakinkannya bahwa aku tentu akan bahagia dalam perjalanan ini. He, the one who knows me for almost a lifetime, surely would feel that. The imminent happiness. It was just lurking around the corner.
“Anytime, Ve, anytime.. so, where to? Hotel?”
“Nope! Salon dong Wira.. Harus tampil oke buat nanti malam, bukan?”
Desahan pelan terlontar dari mulut Wira sebelum ia membalas, “Ok, then.. aything for you princess..”
-
Aku terbangun karena dorongan halus kereta yang berhenti di sebuah stasiun. Kutoarjo, papan di dinding peron memberitahuku. Hujan sudah berhenti cukup lama. Terlihat dari titik-titik kotor di kaca jendela gerbong. Aku mengusap pelan kaca itu, dengan bodohnya berharap noda kotor itu akan memudar.
Tapi mereka tetap di tempatnya. Menunggu titik hujan lain yang hendak turun hingga akhirnya mereka tersingkirkan.
Tapi, kapan hujan berikutnya tiba?
Terik adalah yang kutemukan melingkupi sepanjang panorama di luar kaca jendela gerbong. Diiringi suara hiruk pikuk penumpang, pengantar dan mereka yang baru turun dari kereta-kereta transit. Juga pedagang yang berseliweran, staff stasiun yang mengontrol di beberapa titik atau mereka yang mengunjungi stasiun tanpa maksud apapun.
Ada cerita kehidupan yang akan terus teruntai kalimat demi kalimat tak peduli apa yang terjadi. Ingar bingar di stasiun ini pun begitu. Pedagang-pedagang itu mungkin saja tak mampu menjual apa yang dia jajakan satu pun, namun kereta akan tetap pergi. Staff stasiun harus selesai mengontrol dengan baik kondisi masing-masing gerbong. Akan ada penumpang yang naik. Akan ada mereka yang menghentikan perjalanan, turun di peron ini.
Sepasang tangan kecil, cokelat dan kurus, tiba-tiba muncul menempel di kaca jendela gerbong. Disusul seraut wajah dengan cengiran tak peduli namun menggoda. Ia terlihat menikmati pertunjukannya, bocah itu. Menggerak-gerakan telapak tangannya di kaca jendela, membawa serta titik-titik kotor bekas hujan.
Gerakannya terhenti saat salah seorang staff stasiun setengah berlari ke arahnya sambil mengacungkan tangannya, mengancam. Sementara tak jauh terlihat seorang ibu dengan bakul tertutup selempang kain mengamati. Tatapannya khawatir namun ada simpul senyum tipis terarah pada bocah itu.
Kami bertatapan sepersekian detik sebelum ia berlari menghindari  staff stasiun menuju ibu pedagang. Memeluk kencang pinggang si ibu sambil pura-pura bersembunyi, matanya berkilat nakal ke arahku dan sekilas tangannya melambai pelan di balik bakul dagangan si ibu.
Mereka berdua berjalan menjauhi peron ke arah luar stasiun. Ada seorang bapak-bapak dengan seragam kuli panggul stasiun menanti di pintu keluar. Ia mengangkat lincah si bocah ke punggungnya diiringi seruan tak terdengar dari bibir si ibu.
Kesederhanaan yang terlihat begitu kecil. Tersamarkan kemiskinan yang mengikat mereka.
Ada tetes yang terasa menggenang di ujung mata.
Matahari masih menggelayut perkasa. Titik –titik noda yang melukai kaca pudar dibawa telapak tangan kurus dengan cengir nakal yang begitu polos.
Aku bisa melihat dengan lebih jelas sekarang.
Begitu terang.
-
Angin sore terasa begitu hangat. Semilirnya menggoda mata memejam sejenak menikmati ketenangan yang nyaman. Di sekitar, pengunjung mulai menempati gubuk-gubuk lesehan lain.
Ujung-ujung rumpun padi bergoyang enggan. Melambai malu-malu.
Dia belum juga datang padahal jus alpukat ini hanya tersisa setengah. Bebek bengil yang katanya crispy dan enaknya setengah mati pun belum tersentuh.
Sejak landing hanya mampu melahap tuna sandwich dan teh madu, menolak tawaran Wira untuk lunch bareng dia dan main ke Pirates Bay. Ajakan yang sama, namun berharap akan sosok yang berbeda.
Menghabiskan separuh siang di hot bath dan Bali massage di satu salon & spa di daerah Ubud, thanks to one of my co-workers it was worth the pennies. Aku harus ingat memberi Tantri oleh-oleh khusus dari sini.
Saat coconut cream pie muncul dan sepiring bebek bengil sudah tandas, aku masih sendirian. Keberanian yang seolah menggunung di awal hari tereduksi dalam menit-menit hening penantian kedatangannya.
Staf Bebek Bengil yang berdiri tak jauh di ujung paviliun kerap melayangkan pandangan prihatin.
It’s fine. Aku mengucap berkali-kali.
Ada teman yang lebih dulu datang bersamanya. Mungkin ada janji lain yang lebih membutuhkan kehadirannya. Dan sejuta kalimat mungkin yang dalam diam aku rangkai sendiri.
Wira menelepon dua kali. Nada khawatir kental dalam tanya yang ia ajukan. Aku belajar jadi pembohong yang baik. Aku bilang baik-baik saja. Ia datang dan bla bla bla.
Ada tetes yang mengancam luruh di ujung mata.
Aku pamit dari ambience cantik yang awalnya ku harap akan jadi memori yang menyenangkan. Kedatanganku memang tak sia-sia. Tapi ada harapan yang terlempar jauh ke kolam kecil penuh teratai yang ku lihat menghias taman. Ia bahkan berbisik halus, ia enggan mengapung dan biar tenggelam.
Harap itu benar tenggelam dalam hari yang berbisik tentang keberanian.
Karena dalam gelap yang merayap, dalam temaram pijar cantik di sekeliling paviliun, ada sosok familiar yang menggenggam wajah lain.
Dan benak bodoh ini mampu berdiri cukup lama untuk menyaksikan sebuah kecup intim terberi.
Ia tak benar-benar ada. Namun benar-benar pergi.
-
Ada sebuah pesan singkat masuk.
Sudah sampai mana? Aku jemput ke stasiun?
Tawaran yang sangat ingin ku iyakan. Sangat. Namun tidak, sebelum satu agenda ini terlaksana.
Alih-alih menjawab pesan itu, ada nomor-nomor lain yang ku hubungi. Suara di ujung panggilan menjawab setelah deringan ketiga.
“Ve.. Ve..” sapanya dalam riang yang tak tertahan. Kadang aku bertanya apa semuanya mendapatkan keistimewaan ini? Apa mungkin hanya aku yang salah kira. Pasti.
“Udah balik kerja? Bisa ketemu?”
Hening sebentar di ujung sana. Heran dengan balasan dingin yang ku lempar. Jelas, dia terbiasa dengan aku yang lain.
Dia menyebut kedai ramen favorit kami berdua dan waktu pertemuan. Aku mengiyakan pelan. Dalam hati aku menguatkan diri.
Senja menggelayut di langit Bandung ketika aku menghabiskan matcha ice cream, sekali lagi menunggunya. Manequin di etalase seberang sudah dua kali berganti outfit. Kali ini sebuah mini dress krem simple dengan lace di bagian kerah dan pola rajutan yang terlihat manis dari atas sini. Warna dress sama seperti waktu itu di Bali. Menunggunya.
Matcha ice cream yang kedua tersisa setengah ketika tepukan tangannya hinggap di bahuku. Diiringi tawa familiar yang dulu begitu aku damba.
“Giliran gue transfer ke Bandung elo malah ke Jogja, Ve..”
Dengan satu suapan besar, matcha ice cream kedua ini sekejap dia habiskan, tanpa permisi.
“I went to Bali..”
“Ah, iya, elo bilang kan waktu itu, kita janjian ketemuan di Bebek Bengil..”
“And you didn’t come.”
Dahinya berkerut sesaat, sebelum cengiran playful-nya kembali muncul, “Iyaa sorry.. aku ada janji lain Ve, sayang..”
“Aku ke Bali waktu itu to confess..” menelan ludah, meraih keberanian yang tersisa, aku melanjutkan, “I had this thing for you, and it was not just a crush.. it was more than a crush.”
Dia menoleh cepat, tertegun. Tak ada cengiran playful lagi. Hening.
“Was..” ucapnya pelan.
“And you kissed another girl that night.”
“Was..”
Ada alasan kenapa Tuhan memilihkan takdir seseorang. Ia akan memberi sesuai apa yang kita butuhkan, yang mungkin bukan sesuatu yang kita pinta.
Dia bukan sosok yang mampu settle dalam satu relationship, ia punya sejarah akan itu. Aku tahu. Tapi aku tak peduli. Dulu.
Tuhan memilih hening dalam angin sore kala keberanian datang tempo lalu. Ia tidak memberi kemungkinan, ia memilihkan kepastian untukku.
Kepastian bahwa hati sosok pria yang ada di depanku  bukan tertuju pada genggaman terbuka tanganku ini. Hening adalah jawaban. Kembali pada titik dimana aku akan memulai lagi, Tuhan memilihkan.
Jadi kali ini ketika keberanian kembali muncul dan memberikan kesempatan untuk bertemu dengannya, aku tahu apa yang aku butuhkan. Bukan pijar-pijar sementara yang kadang buyar kadang menyala seperti hatinya.
Aku butuh terang sempurna.
Tuhan sudah memilihkan, mungkin sudah lama.
Dan sosok itu bukan dia.
And now i see it crystal clear, without pain, i know which path that i should take. To him that has waited patiently.
-
“Ada dimana? Keretanya belum sampai?” tanyanya tergesa dan khawatir ketika panggilannya yang kesekian akhirnya aku jawab.
“Udah di depan rumah, kok..”
Gerbang depan terdengar dibuka begitu terburu-buru. Wajah cemas berganti kelegaan ketika mata kami bertemu.
“I did it.. Telling him..” kata-kataku terdengar mantap dan meyakinkan. Walau itu kenyataannya.
Aku mantap dan meyakinkan, meninggalkan masa lalu yang hanya akan jadi belitan kusut bila ia dibiarkan bersarang. Wira bilang lepaskan itu dan biar ia melayang jadi memori. Then you will feel relieved too.
Wira benar. But he always is. Always right.
“I know..” kata dia lembut, menenangkan sambil membelai lenganku pelan.
“And you’re right.. always..” menatap langsung matanya, aku percaya, pilihan Tuhan selalu tepat.
“I am, princess. I am.”
And at the end of the day, our warm home is in the person’s embrace who knows us inside and out. And picks us the clearest path back into him.








Minggu, 13 April 2014

where fangirling takes me

Hollaaaa, aku kembalii, kembali dari hibernasi dunia perbloggingan.. Haha, life has sucked me hard into the world unknown. lol. ok, let's just rolling back into the right track.

remember my last post related to this drama titled Reply (Answer Me) 1994 and its soundtrack and its character named Chilbong that i love soo much?

Oke, dramanya sudah selesai sejak akhir tahun lalu dengan akhir yang nggak banget. 
Bukan karena saya fans Chilbong lalu akhirnya bilang ending drama ini sucks karna Chilbong nggak end up sama Najeong. err, that was one thing, but no, really there were more than that one.

Tentang narasi dan karakter yang nggak konsisten, resolusi yang nggak sempurna, wrap-up story yang terkesan diburu-buru, dan masih banyak lagi mengekor di belakang, bisa dilihat di soompi thread-nya Cider Couple.

Tapi nggak apa-apa, karena berkat drama itu saya jadi berkesempatan jatuh hati sama satu karakter luar biasa dan aktor yang beraksi di balik karakter itu. Yoo Yeon Seok.

Dan beberapa hari lalu salah seorang anggota international fan mereka mengajak saya bergabung ke Line chatroom mereka. Haha, beberapa komentar saya di thread soompi mereka berbuah undangan manis ini. 

Dan bergabunglah saya akhirnya saya kesana. Babblings, sharing, screaming and laughing together about many things. Nggak terbatas hanya membicarakan Yoo Yeon Seok atau Chilbong atau Cider Couple, walaupun ya, mereka tetap topik utama. We share stories about life, about school, new project, relationships, even kisses and kissing. 

Saya nggak pernah bergabung dengan fandom apapun sebelumnya. Terbatas menyukai dan mengagumi sana sini. Tapi bisa involve dan menyumbang sesuatu secara langsung cukup menyenangkan juga. Walaupun jelas dibanding member yang lain mungkin saya masih belum cukup dedikatif. hehe. one step at a time.

Please, whoever read this, give 'em a glance HERE. You would find this bunch of ladies with their 10.000 hours fight for dreams they really yearn for.
Yeoniverse fighting!!





Selasa, 10 Desember 2013

Lim Kim - Happy Me (original version by ECO) ost Reply 1994


Here the English translation lyrics :

I met you after going/through several break ups/Maybe that’s why I was/more scared to start with you/But getting to know someone/and loving someone/How great would it be if you were/the last person to do so? Like me/Even during my busy day, when/I hear your voice for a moment/I wonder if you feel/like you’re with me too
If only you were there when/I come home every night/Then your heart could rest in/my embrace after a long day/Just love me like you love me/now, if only you don’t change/The person who could have all/of me is you,/I won’t be shaken
Sometimes, you/feel sorry about/your future that’s not set/But don’t forget, I love you, if/I’m with you, it’s a happy me Even during my busy day, when/I hear your voice for a moment/I wonder if you feel like/you’re with me tooIf only you were there when/I come home every night/Then your heart could rest in/my embrace after a long day/Just love me like you love me/now, if only you don’t change/The person who could have all/of me is you,/I won’t be shaken
Sometimes, you/feel sorry about/your future that’s not set/But don’t forget, I love you, if/I’m with you, it’s a happy me I want to throw away the love that/the world decided upon with/many expectations Like your/heart, I want to always stay/at the same place And be another/you, for the precious you Just love me/like you love me/now, if only you don’t change/The person who could have all/of me is you, I won’t be shaken/Are you feeling sorry about/your future that is not set yet?You’re not alone now/Don’t forget, if I’m with you,/it’s a happy me 
This song should be having sort of love-relieved and life-cherised feeling in it. This should be one happy song. Just like the title.
Unfortunately, i don’t feel it. I read the lyrics, i know the meaning of those words. And indeed, it is a happy song. But the thing is, i always get teary everytime hearing this song. especially this Lim Kim version.

After going through a long and painful weekend with Answer Me 1994 episode 14 and 15, you would feel what i feel. Moreover if you are team Chilbong. You must understand what i babble about.

God, drama, why..
Why this series should be soo good that i might feel that my life peaks on weekend lately.

And, why.. why this chilbong character should be soo great even after he got so painfully heartbreaking and bittersweet first love..

Why..

Damn this drama got me so emotional that i think i am half psychotic for rooting for chilbong so much.

Haha.

Terlepas dari drama stuff and chilbongie-possessed self, lagu ini  punya sisi nostalgic yang kuat. You know, that feeling, saat kamu melintas di koridor SMA yang lama kamu tinggalkan dan sejenak menoleh ke deretan bangku di dalam kelas dimana sejuta memori bersarang di sana. kamu ingat obrolan-obrolan beragam—dari guru galak, senior ganteng, latihan ekskul, drama roman di dalam kelas, sampai update gosip terbaru di lingkungan sekolah. Atau kamu akan ingat keriuhan kantin di jam istirahat, saking penuhnya kamu sampai bisa mengunyah snack sambil berdiri, membaca catatan-catatan random di mading sekolah. Or, even, your memory of a first love too.

I played this song a lot in the rushing train on the way back home.

You know, as the farms, and fields, houses and trees ran passing by, you suddenly remember about rainy days in the youth when the soil smelled so fresh, or words—the painful and sweet ones, or faces you cherised the most, or the long lost love.


In the language i don’t even understand, this song is powerful enough to knock my sense.

And makes me cry again.

Senin, 05 Agustus 2013

Been awhile

Hiatus ini yang terlama. Saya tenggelam dalam kelelahan pekerjaan dan keengganan untuk menulis lagi. Tho, sebenarnya saya kangen sekali.
Berdiam di depan layar komputer. Menunduk sambil tekun melukis kata di dalam jurnal. Kebahagiaan personal yang kadang nggak semua orang bisa mengerti.

Then now, i'm home.
Bersiap menyambut hari raya dalam nuansa masa kecil penuh nostalgia. Siang terik penuh teriakan bocah-bocah bermain. Malam dengan langit jernih penuh taburan bintang berkerlipan malu-malu.
Alhamdulillah.
How's life at you?  


Kamis, 16 Mei 2013

indrayanti, suatu hari..

Perjalanan ini berawal dari playful banter kami—aku, sita dan novi, di suatu siang beraroma belerang saat kami mencoba keluar dari keriuhan kota di hari minggu dan minggir sejenak dari tuntutan kerjaan.

I thought it might not gonna happen soon, me travelling again to Yogyakarta. But, it happened actually.

Jadilah, akhir April, dengan modal seadanya, saya meluncur ke Jogja.

To be honest, there’s something familiar about Jogjakarta in my eyes. Which i always wonder what it is. The heat? Becak-becak? Aroma kultur keraton yang kuat? Atau aura lain tentang kota ini yang sukses membuat saya kerap rindu untuk kembali.

Pada trip ‘maksa’ kali ini, saya diajak Sita mengunjungi pantai Indrayanti. Salah satu sisi cantik dari beberapa lainnya di garis pantai Gunung Kidul.


Tepus, Wonosari.
Siapa sangka di balik Gunung Kidul yang terkenal kering dan nggak bersahabat itu tersimpan permata pariwisata yang belum banyak tersentuh media.  

I knew about these beaches from the last pages of Tasaro GK’s novel : Galaksi Kinanthi. Yang salah satu latar tempatnya memang di daerah Gunung Kidul. Sejak baca novel itu, ingin rasanya menelusuri garis pantai Gunung Kidul : Baron, Kukup, Sundhak, Wedhi Ombo, Drini dll.

One step at a time, Ve.

We reached Indrayanti after 3 hours of motorbike ride.
Kelelahan yang langsung terbayar aroma matahari bertemu dengan lembut pasir pantai warna khaki. Mereka diterjang ombak nakal laut selatan yang galak dan nggak bisa diajak bercanda. Tapi ombak itu.. andai saya surfer pasti jejingkrakan lihat ombak besar bergulung-gulung cantik seperti itu.


si karang lintah telungkup



maksud hati capturing ombak tapi apa daya amateur view ini yang tercapture, but, isn't it pretty? :)
We played awhile.. the beach wasn’t quite packed karena kebanyakan pengunjung adalah warga lokal Jogja dan sekitarnya. Panas. But worth it. Sempat naik ke atas karang—yang buat saya bentuknya mirip lintah telungkup, dan bisa glance around ke beberapa pantai yang membentang sepanjang garis selatan Gunung Kidul ini.


Indrayanti, dari atas karang lintah telungkup
indrayanti, suatu hari..
  Cantik. And quite untouchable.

Terima kasih, Sita, for this rare chance. And can’t wait for another unexpected trip or the opportunity to finally comeback here, someday. And explore other beauties from the Southern part of Mighty Yogyakarta.

A city that never fails to surprise me.

Selasa, 07 Mei 2013

keeping them in

meninggalkan April yang sepi kata walau sarat momen berharga.

i was just keeping them in,
not keeping them written.

walau pada akhirnya saya menyesal karena ada begitu banyak peristiwa yang akan terlupakan nantinya.

April, so long.

please, please, let yourself be recalled once or twice,
because i need you.