Senin, 05 Agustus 2013

Been awhile

Hiatus ini yang terlama. Saya tenggelam dalam kelelahan pekerjaan dan keengganan untuk menulis lagi. Tho, sebenarnya saya kangen sekali.
Berdiam di depan layar komputer. Menunduk sambil tekun melukis kata di dalam jurnal. Kebahagiaan personal yang kadang nggak semua orang bisa mengerti.

Then now, i'm home.
Bersiap menyambut hari raya dalam nuansa masa kecil penuh nostalgia. Siang terik penuh teriakan bocah-bocah bermain. Malam dengan langit jernih penuh taburan bintang berkerlipan malu-malu.
Alhamdulillah.
How's life at you?  


Kamis, 16 Mei 2013

indrayanti, suatu hari..

Perjalanan ini berawal dari playful banter kami—aku, sita dan novi, di suatu siang beraroma belerang saat kami mencoba keluar dari keriuhan kota di hari minggu dan minggir sejenak dari tuntutan kerjaan.

I thought it might not gonna happen soon, me travelling again to Yogyakarta. But, it happened actually.

Jadilah, akhir April, dengan modal seadanya, saya meluncur ke Jogja.

To be honest, there’s something familiar about Jogjakarta in my eyes. Which i always wonder what it is. The heat? Becak-becak? Aroma kultur keraton yang kuat? Atau aura lain tentang kota ini yang sukses membuat saya kerap rindu untuk kembali.

Pada trip ‘maksa’ kali ini, saya diajak Sita mengunjungi pantai Indrayanti. Salah satu sisi cantik dari beberapa lainnya di garis pantai Gunung Kidul.


Tepus, Wonosari.
Siapa sangka di balik Gunung Kidul yang terkenal kering dan nggak bersahabat itu tersimpan permata pariwisata yang belum banyak tersentuh media.  

I knew about these beaches from the last pages of Tasaro GK’s novel : Galaksi Kinanthi. Yang salah satu latar tempatnya memang di daerah Gunung Kidul. Sejak baca novel itu, ingin rasanya menelusuri garis pantai Gunung Kidul : Baron, Kukup, Sundhak, Wedhi Ombo, Drini dll.

One step at a time, Ve.

We reached Indrayanti after 3 hours of motorbike ride.
Kelelahan yang langsung terbayar aroma matahari bertemu dengan lembut pasir pantai warna khaki. Mereka diterjang ombak nakal laut selatan yang galak dan nggak bisa diajak bercanda. Tapi ombak itu.. andai saya surfer pasti jejingkrakan lihat ombak besar bergulung-gulung cantik seperti itu.


si karang lintah telungkup



maksud hati capturing ombak tapi apa daya amateur view ini yang tercapture, but, isn't it pretty? :)
We played awhile.. the beach wasn’t quite packed karena kebanyakan pengunjung adalah warga lokal Jogja dan sekitarnya. Panas. But worth it. Sempat naik ke atas karang—yang buat saya bentuknya mirip lintah telungkup, dan bisa glance around ke beberapa pantai yang membentang sepanjang garis selatan Gunung Kidul ini.


Indrayanti, dari atas karang lintah telungkup
indrayanti, suatu hari..
  Cantik. And quite untouchable.

Terima kasih, Sita, for this rare chance. And can’t wait for another unexpected trip or the opportunity to finally comeback here, someday. And explore other beauties from the Southern part of Mighty Yogyakarta.

A city that never fails to surprise me.

Selasa, 07 Mei 2013

keeping them in

meninggalkan April yang sepi kata walau sarat momen berharga.

i was just keeping them in,
not keeping them written.

walau pada akhirnya saya menyesal karena ada begitu banyak peristiwa yang akan terlupakan nantinya.

April, so long.

please, please, let yourself be recalled once or twice,
because i need you.

Senin, 17 Desember 2012

6 years and getting older...


6 years.

And i finally realize that i’m aging so fast. Been 6 years since i was titled as highschool student.

Yes, it’s always interesting to come home for a break from work. There are always stories. About the heat. Short yet noisy and annoying traffic. Familiar sight that likely to change bit by bit.

Kota kecil ini, seperti yang selalu saya bilang, selalu memaksa saya untuk mengamati, untuk berkontemplasi sesaat. Warming up my brain yet refreshin’ it at the same time.
My favorite activity during my walk home. Thinking. Fantasizing. Imagining.

Dan sore ini, di akhir hari-hari cuti saya di kota kecil ini, saya mengunjungi almamater SMA.


Banyak yang berubah, seperti warna tembok gedung sekolah yang kini terlapisi warna hijau seluruhnya. Pagar yang diganti lebih tinggi. Masjid sekolah yang sedang dalam proses pembangunan, yang walaupun belum sempurna terbangun, ia terlihat megah untuk ukuran masjid dalam lingkungan sekolah.

Ruangan kelas yang terpasang pendingin udara. Which makes me wondering, how could they proudly called themselves now, a green school if their use of electricity is oversized.

While it’s nice to see lapangan basket/futsal yang dulu banjir tiap hujan dan bikin kolam mini di sana-sini, sekarang terlindungi kanopi besar, menjadikannya terlindungi dari hujan dan mengurangi panas. I was chuckling that time i saw that canopied field, wondering.. kasian banget ya, anak-anak Pasus sekarang nggak punya alasan lapangan banjir atau hujan untuk sejenak mangkir latihan. Tapi betapa enaknya mereka nggak perlu berpanas-panas ria tiap latihan rutin upacara atau menjelang 17 Agustus.


Oh, dan sudah ada connector path di lantai 2 untuk tiap gedung kelas. Kebayang, dulu kalau mau ke gedung sebelah/seberang harus muter turun tangga ke koridor bawah lalu naik lagi di gedung yang dituju.


See, it’s way so much different. As years passed, my old school—as well as this hot-humid little town, has changed. Mempercantik diri, ingin ikut bersisian dengan modernisasi, berniat memperbaiki.

But, to be honest, i miss my old highschool the way it used to be. Old buildings. Old classes. Spooky corridors. Haha. Old time.

And a long lost unsaid love.

Sabtu, 17 November 2012

he's the owlsomeness!!

i still remember clearly, on October 28th, last year, saya cuma bisa ngelamun di kamar ngebayangin ingar bingar crowd di venue Tennis Indoor Senayan.
Everybody had so much fun watching Adam Young sang in front of their eyes. It was a great envy to those who attended the show. Really. jadi, saya berikrar, niat untuk nabung sejak dini barangkali saya punya kesempatan lain untuk nonton Owl City langsung. Dan taraaa.. Alhamdulillah, this tribune ticket was in my grasp, right at the first opening of tickets sale.  


Owl City The Midsummer Station Jakarta Concert. That was the theme of this year's concert. Album ini isinya cukup berbeda dibandingkan dengan materi album Owl City terdahulu.
But still, kamu masih bisa mengenali ciri khas Adam Young di dalamnya. Pop electronica dengan lirik-lirik motivasional khas dia yang moving banget itu. He's still inspirational, one of my role models in life.


And it was my first live concert! The trip dari Bandung, the whole anticipation. Unexpected happenings. A rushing yet emotional moments through harsh afternoon life in the beloved capital. What a once-in-a-lifetime experience yang nggak akan terlupakan seumur hidup.


Dan performance Owl City?
OWLSOOOMMEEE!!!!
22 lagu dibawakan secara kontinyu dari Dreams and Disasters sampai Gold sebagai penutup. Seumur hidup saya nggak akan pernah melupakan betapa berartinya music intro dari Dreams and Disasters sebagai pengiring kemunculan Adam Young di atas panggung. He's as charming, and owlsome, and lovely as usual. Dan menonton stage performance dia itu adiktif.
I wanted him singing more songs. lebih lama dari 90 menit itu.  


then i love him more and more and more! :)

Senin, 24 September 2012

my Grey. Mine.

Panas menyengat membelai wajah. Namun pengaruhnya tak seberapa besar seperti waktu aku menjadi manusia normal dulu. Ini mungkin keistimewaan pelindung : imun terhadap perubahan cuaca. Setidaknya di saat sesi latihan seperti ini.

Walaupun dikondisikan seperti aslinya, dengan temperatur yang menyesuaikan dan sebagainya, tubuh kami—para pelindung—akan belajar sedikit demi sedikit beradaptasi. Kami akan merasakan sengatan panas, menusuknya dingin, tetes basah hujan, sedetik dua detik rasa tak nyaman akan merayap, namun selanjutnya tubuh dengan sendirinya akan menyesuaikan. Sosok di depanku ini menginformasikan hal tersebut barusan, ketika kutanyakan kenapa aku tak benar-benar kepanasan.

Kami sedang berada di satu titik di jalanan kosong salah satu interstate sepi di selatan U.S. menjalani sesi latihan adaptasi. Hanya kami berdua. 

Gregori mengawasi dari entah dimana tentu saja, namun ia tak menampakkan diri. 
Jadi, yah, berdua. Cowok bermata kelabu ini masih asyik menerangkan mekanisme perubahan termoregulasi pada tubuh seorang pelindung. Bla, bla, bla. Dan aku, dengan tak menghiraukan ucapan yang keluar dari bibirnya, sibuk mengamatinya.

 “You’re so Asia,you know..” 

“Pardon?” rautnya agak kaget karena disela di tengah-tengah penjelasan. 

“Wajah kamu itu saangat Asia. Bahkan jelas jelas garis wajah Asia Tenggara. Jadi mau sekental apapun aksen English British-mu itu, kamu nggak bisa menipuku.

” Dahinya berkerut, menampilkan raut tak mengerti. Atau pura-pura tak mengerti. 

“Dan kamu itu mengingatkanku pada seseorang..” 

Dia merasakan itu, aku melihat dari pancaran matanya bahwa dia tahu apa yang aku bicarakan—dirinya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan, juga topik pembicaraan. 

“Kalau kamu sudah mengerti kenapa kamu tak merasakan perubahan signifikan terhadap temperatur, sebaiknya kita mulai sesi latihan hari ini.” 

“Kamu mengingatkanku pada Raka.” 

Dan ia sontak membeku. Menjawab rasa penasaran yang selama ini mengendap di benakku sejak pertama kali bertemu dengannya. 

“Mungkin karena kemiripan nama. You know, Raka dan Arakata.” 

Tahu bahwa itu salah satu usahanya untuk berkilah, aku hanya tersenyum. “No, it’s more than just a name.” 

Ia masih enggan menatap mataku. “Sebaiknya latihan dimulai.” 

“It’s weird, karena aku menyukai Raka. Dan melihat kembali sosoknya dalam bentuk yang berbeda seperti ini cukup mempengaruhi perasaanku.” Entah dorongan apa yang mendesakku membuat pengakuan seperti itu. Namun tak ada kesan menyesal tersisa. 

Aku memandangnya terpaku. Wajahnya menatap sudut jauh di padang tandus. “Aku mau memanggil Raka, boleh?” lenganku terulur, menangkap kelingkingnya yang terkulai di sisi tubuh. 

Saat itulah ia menoleh, memandangku tajam, “No.. Aku Ara. Arakata.” Persisten, seperti biasa. 
Dan ia menarik lengannya menjauh, namun tatapannya melembut. “I can’t be that.. Your Raka anymore. But i can be your Ara. Your Grey.” 

Benak yang tak seberapa lincah mencerna ini masih sibuk memproses ucapan si ‘kelabu’ tadi. Ya, Gregori pernah bicara padaku suatu waktu, sekali seseorang bertransformasi menjadi kaum kelabu dan mengabdikan dirinya mendampingi seorang pelindung dalam masa pelatihannya, maka ia harus meninggalkan masa lalunya. Seperti seorang pelindung sendiri hidup—meninggalkan masa lalu dalam satu kompartemen yang diam di sudut memori tak terjangkau. 

Setidaknya si kelabu ini ‘milik’ku. Meski ia bukan Raka. 

“My only Grey?” tanyaku mengkonfirmasi. 

Si mata kelabu itu terdiam sesaat, tatapan lembutnya masih terkunci dengan mataku. Lalu dengan mantap ia mengangguk. 

My Grey. My only Grey.

Sabtu, 08 September 2012

kembali...

Even now when I'm alone I've always known with you I am home
For me it's a glance and the smile on your face the touch of your hands And an honest embrace
For where I lay it's you I keep, This changing world I fall asleep With you all I know is I'm coming home, Coming home
Aku rindu tetes hujan. 
Ritmenya yang menenangkan. Aroma tanah basah yang melipur perih. Kesejukan alami yang menyelubungi. 
Aku rindu berjalan di bawahnya. Seperti yang kerap aku lakukan dulu. Hujan mengingatkanku akan keberadaan dirinya. Arakata. 
Sepuluh tahun yang panjang. Namun terlalu singkat begitu terlewati. Detik-detik dia ada di sampingku, menemani saat pelatihan berat demi memperkuat circle. Memenuhi takdirku. 
Dia takut hujan, itu yang mengingatkanku padanya. 
Seperti transformasi dirinya menjadi seekor kucing bermata kelabu, ia juga mewarisi sifat kucing yang agak alergi air. Ribut tak jelas tiap kali aku bermain di bawah hujan, membasuh rasa frustasi akibat latihan berat dan tugas dalam circle. 
Sosok manusia-nya mendadak muncul tiap kali aku membandel dan Gregori sudah terlalu lelah dan malas menyuruhku kembali ke mode pelindung alih-alih bertingkah seperti anak kecil berlarian dalam hujan. Gregori licik. Selalu tahu titik lemahku. 
Tangannya hangat menggenggam pergelangan tanganku, erat, memfiksasi tubuhku agar berhenti bergerak. Suaranya terdengar jelas meski bersaing agar tak teredam riuh hujan. 
Dia memaksaku menatap mata kelabunya. Hingga aku kikuk sendiri. 
“Balik!” tegas, namun tak terdengar kasar. Sorot matanya sama kukuh. “Atau lo mau ngebunuh gue dengan hujan-hujanan begini.” 
Sebatas itu, dan aku kelu. 
Berbagai kalimat untuk menukas balik kata-katanya berkelebat percuma. Hilang sekejap ditelan genggaman hangat dan sorot tegasnya. Dan aku tahu dari balik kanopi teras, Gregori berdiri angkuh dengan senyum kecil yang jarang muncul di wajahnya. Menikmati kekalahanku. 
Kalau sudah begitu, aku akan terseret di belakang langkahnya kembali ke Camp. 

Sepuluh tahun, dan hujan tak akan pernah terasa sama lagi. 
Karena dalam hujan terakhir kali itu, ia pergi. Menghilang dalam deru hujan yang katanya ia benci. 
Seketika aku kehilangan genggam hangat dan sorot kukuh yang persisten memaksaku kembali pulang. 
Aku rindu hujan. 
Meski dalam siluet yang terselubung derai lebat, aku menginginkan sensasi kehadirannya. Kembali ke sini. Di sisiku.

quoted text : Home - Vanessa Carlton