Tampilkan postingan dengan label movie corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movie corner. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Mei 2012

Midnight in Paris



So, incidentally saw this couple days ago at dvd stall and decided to try a bit. Mungkin karena saya adalah romance junkie yang curious dengan segala hal yang berbau romantisme. And Paris is a popular symbol of romanticism.

That, or there was Adrien Brody in this movie’s casts. Walopun bukan jadi main role-nya tapi entah kenapa sejak King Kong dan the Pianist, saya kok rada sensi kalo ada nama Adrien Brody di suatu film. Bawaannya penasaran pingin lihat seperti apa filmnya, jadi apa dia.

At first, i thought this movie was one of those mainstream plots and usual stories. American guy visited Paris for holiday then met a girl and fell in love and so on and so on.
But, hey, ini kan filmnya Woody Allen. Woody Allen gitu loh, bok! Nggak mungkin kali, ya, film arahan dia yang sekaligus ditulis juga skenarionya secetek itu.

Film ini bercerita tentang Gil, seorang pemuda Amerika, yang memiliki background karir di dunia film yang cukup sukses, ikut serta berlibur ke Paris bersama tunangannya, Inez, dan orang tua gadis itu.

Nah, sebelum berangkat Paris, Gil sudah berpikir untuk beralih profesi menjadi penulis mengingat passion dia yang sebenarnya adalah sastra. Sejak di Amerika, dia mulai menulis draft novelnya. Dan saat tiba di Paris, keinginannya semakin bulat. Bahkan Gil ingin sekali pindah menetap di Paris karena baginya nuansa Paris begitu magis bagi seorang seniman dan sastrawan karena kota ini melahirkan begitu banyak inspirasi. Apalagi saat malam dan hari hujan.

Tapi, ide itu ditentang mentah-mentah oleh Inez yang tak mau kesuksesan yang sudah susah payah diraih di U.S. dilepas begitu saja demi ketidakpastian karir yang membayangi andai benar si Gil ini alih profesi jadi penulis.

Hingga suatu malam, saat tunangannya asyik hang-out di club dengan sahabatnya, Gil malah tak ikut dan iseng berjalan kaki di sekitar Paris. Tujuan awalnya memang hanya mencari inspirasi untuk draft novelnya, sampai dia tersesat. Kelelahan duduk di undakan tangga di sisi jalan, sebuah mobil dengan tampilan antik menghampiri. Dari dalamnya keluar beberapa orang berpakaian retro a la tahun 20-an mengajaknya ikut serta ke dalam mobil.

Dari sinilah petualangan si Gil dimulai. Tiba-tiba dia seolah dibawa lewat mesin waktu ke era 1920-an. Bertemu dengan seniman dan penulis-penulis terkenal. He met Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Gertrude Stein, Cole Porter, Pablo Picasso,T.S. Elliot sampai Salvador Dali yang diperankan sama Adrien Brody :).

Dan di malam-malam menjelajah masa lalu itu, Gil jatuh hati pada sosok Adrianna, yang dikisahkan sebagai mantan kekasih Pablo Picasso dan Ernest Hemingway.
Too much spoiler? I sincerely apologize kalau begitu.. :)

Tapi benar, ya, film ini jalan cerita dan akhirnya begitu nggak terduga. Dan saangat imajinatif. Jenis-jenis kisah yang juga jadi impian saya. Menjelajah di masa lalu dan bisa bertemu sosok-sosok yang saya kagumi. Dan berguru dari mereka.
Who doesn’t want that?

Sekali lagi, terbukti kan, karya Woody Allen nggak pernah ecek-ecek. Dialognya asyik, mantap, apalagi saat pentolan sastra yang jenius itu pamer lewat lines mereka. Saya sampai agak-agak speechless.
Ini contohnya :

Ernest Hemingway: Yes. It was a good book because it was an honest book, and that’s what war does to men. And there’s nothing fine and noble about dying in the mud unless you die gracefully. And then it’s not only noble but brave.

Ernest Hemingway: It was a good book because it was an honest book, and that’s what war does to men. And there’s nothing fine and noble about dying in the mud unless you die gracefully. And then it’s not only noble but brave.

Ernest Hemingway: No subject is terrible if the story is true and if the prose is clean and honest.


Gil: You can fool me, but you cannot fool Ernest Hemingway!


Ernest Hemingway: All men fear death. It’s a natural fear that consumes us all. We fear death because we feel that we haven’t loved well enough or loved at all, which ultimately are one and the same. However, when you make love with a truly great woman, one that deserves the utmost respect in this world and one that makes you feel truly powerful, that fear of death completely disappears. Because when you are sharing your body and heart with a great woman the world fades away. You two are the only ones in the entire universe. You conquer what most lesser men have never conquered before, you have conquered a great woman’s heart, the most vulnerable thing she can offer to another.

Death no longer lingers in the mind. Fear no longer clouds your heart. Only passion for living, and for loving, become your sole reality. This is no easy task for it takes insurmountable courage. But remember this, for that moment when you are making love with a woman of true greatness you will feel immortal.



Ernest Hemingway: No subject is terrible if the story is true, if the prose is clean and honest, and if it affirms courage and grace under pressure.

Ernest Hemingway: I believe that love that is true and real, creates a respite from death. All cowardice comes from not loving, or not loving well, which is the same thing. And then the man who is brave and true looks death squarely in the face, like some rhino-hunters I know, or Belmonte, who is truly brave. It is because they make love with sufficient passion, to push death out of their minds, until it returns, as it does, to all men. And then you must make really good love again.

Adriana: I can never decide whether Paris is more beautiful by day or by night.

Gil: No, you can't, you couldn't pick one. I mean I can give you a checkmate argument for each side. You know, I sometimes think, how is anyone ever gonna come up with a book, or a painting, or a symphony, or a sculpture that can compete with a great city. You can't. Because you look around and every street, every boulevard, is its own special art form and when you think that in the cold, violent, meaningless universe that Paris exists, these lights, I mean come on, there's nothing happening on Jupiter or Neptune, but from way out in space you can see these lights, the cafe, people drinking and singing. For all we know, Paris is the hottest spot in the universe. 

Gil: That's what the present is. It's a little unsatisfying because life is unsatisfying.

Paul: Nostalgia is denial - denial of the painful present... the name for this denial is golden age thinking - the erroneous notion that a different time period is better than the one ones living in - its a flaw in the romantic imagination of those people who find it difficult to cope with the present.

Gert: The job of the artist is not to succumb to despair, but to find an antidote for the emptiness of existence.

sangat sangat worth to watch, lah.

Rabu, 28 Maret 2012

the RAID







Okay, here, i love watching movies. Saya nggak memfokuskan selera pada satu genre, dan sembah sujud pada satu genre saja. Saya menjajal banyak jenis. Dari yang bikin mata melek sepanjang film, sampai yang sepuluh menit diputar langsung bikin saya mendengkur. A lot.
But i rarely watch movies on cinema though. Kebanyakan menyewa di dvd rentals, ato beli kaset dvd-nya. Baik yang bajakan ataupun yang original.


Dari sekian banyak tumpukan piringan kaset itu, though, sebagian besar adalah film-film luar. Cuma seupil doang kaset film indonesia yang saya punya. Bahkan list-nya lebih sedikit dari seri anime jepang.


Nonton di bioskop pun saya pilih-pilih. Serasa alergi kalau diajakin nonton film Indonesia, kalau nggak saya search dulu ulasannya di media dan memastikan itu film layak tonton. Bukan tidak menghargai hasil karya bangsa sendiri, tapi yaa.. saya lebih memilih menunggu film itu muncul di layar kaca ketimbang capek ngantri di bioskop. Hehe.. lebih hemat.
I could count how many indonesian movies that i had seen on cinemas. Some of them made me satisfied, some didn’t.


Itu kali, ya, yang bikin saya pilih-pilih. Malas kalau harus keki keluar dari pintu bioskop gara-gara film-nya bikin suara jangkrik tiba-tiba muncul di benak ‘kriik.. kriik.. kriik’ a.k.a mengecewakan.


Then, muncullah film satu ini.


The Raid.


Atau Serbuan Maut, kalau dijabarkan dalam bahasa Indonesia.


Oke, melirik judulnya saja itu jelas film aksi. Aksi laga lebih tepatnya. I first heard this movie dari tweet salah satu penulis favorit saya, Ika Natassa. Film ini muncul lebih dulu di INAFF dan menang people choice award di Toronto Film Festival. Dalam tweet itu, Mbak Ika memuja-muja betapa suspense dan sadisnya ini film. Sukses bikin beliau hampir copot jantung dan breathless.


And i was wondering that time, sebagus apa, sih, itu film?


Film ini rilis barengan sama film Hunger Games yang memang sudah ditunggu para pembaca novelnya. Jadi, agak-agak ragu juga milih mau nonton yang mana sejak tanggal 23 kemarin. Secara saya baca itu novel Hunger Games dan teaser trailernya juga lumayan oke. Dan beberapa review juga bilang Hunger Games oke.


But, you know what surprised me?


The Raid ini, dilabel 87% sama Rotten Tomatoes pas fresh rilis. Oh, my. Beneran bukan film ecek-ecek ini mah.


And this afternoon, finally, setelah mengumpulkan keberanian dan latihan kardio sebelumnya *lebay, i know*, i decided to watch The Raid.


Berkisah tentang satu tim elit ‘SWAT’ versi Indonesia (Densus 88 apa, ya?), yang terdiri dari 20 orang rookies yang masih minim pengalaman lapangan. Dikepalai sama Letnan Wahyu (Pierre Gruno) dan Sersan Jaka (Joe Taslim) sebagai komandan peleton. Salah seorang anggota tim ini adalah Rama (Iko Uwais), yang ternyata memiliki saudara yaitu Andi (Donny Alamsyah) yang merupakan salah satu orang kepercayaan Tama.


Nah, misi kali ini adalah menyerbu sebuah gedung apartemen tua yang disinyalir (aih, bahasa gw) jadi markas seorang penjahat kelas kakap dan di dalam gedung apartemen itu ditampung buron-buron yang sedang dicari polisi. Gedung ini sulit sekali dimasuki aparat karena penjagaannya luar biasa ketat dan memang jadi semacam tempat suci bagi bandit-bandit kota. Pemimpin bandit yang diburu itu bernama Tama (Ray Sahetapy).


Film ini dibuka dengan scene yang religius sebenarnya, yaitu si Rama yang sholat Tahajud (kayaknya). Namun diiringi juga dengan kilasan-kilasan kontras latihan fisik Rama sebelum misi dimulai. But what sweet was the scene when Rama kissed her wife’s pregnant belly before he departed for mission. Ok, so female, i know, but can’t help.


Ceritanya ini misi penyerbuan yang kesekian setelah beberapa kali kepolisian gagal melumpuhkan gedung ini.


Waktu itu mobil peleton merapat ke gedung nggak jauh dari tempat sasaran dan itu tim SWAT turun, saya amazed si letnan Wahyu ini kok, gaya banget ya, anak buahnya pakai atribut lengkap tapi dia santai aja pakai kaos oblong dan hanya dilapisi rompi anti peluru wungkul. Sifat sok detektif saya mengendus sesuatu yang mencurigakan tentang sosok ini (aih, bahasa gw).


And, this was this one weakness of most short dialogues in this movie, bahasanya itu loh, baku banget. Di dunia gangster, kan, ya, selain bahasa umpatan dan makian yang memang jadi bahasa wajib, nggak ada itu acara pakai EYD dalam percakapan sehari-hari. Pas si ganteng sersan Jaka ngasih arahan juga kerasa banget kaku-nya. Untung dialognya sedikit. I love to see Jaka fight and command more than see him talk hehe.





No offense ya, saya ini Team Jaka to the heart beat.


Awalnya penyergapan diam-diam ini berjalan mulus, hingga di lantai 6, rombongan tim SWAT ini kegep sama satu bocah yang baru keluar dari toilet. Bocah ini tewas ditembak si Wahyu. Tapi naas, sebelum tewas, ini bocah sukses memberi tahu temennya kalau ada polisi di gedung mereka. Dan lewat jaringan interkom yang tersambung langsung ke ruang komunikasi dan observasi bapak Tama, sontak seluruh gedung dialert bahwa ada ‘tamu’ nggak diundang yang butuh diusir sama penghuni gedung. Tahu, kan, penghuni gedung itu mostly adalah penjahat yang you wouldn’t want to know at all.


Preman sniper ditempatkan di gedung-gedung sekitar, siap menyerang tim dari jendela-jendela yang memang sangat visible. Tukang pukul, pembunuh bayaran semua keluar karena iming-iming manis dari bapak Tama.


Sumber penerangan dan jaringan komunikasi yang berguna untuk tim SWAT dipadamkan. Dan thanks to Letnan Wahyu yang merahasiakan misi ini, nggak akan ada back up dari kepolisian yang dikerahkan untuk membantu mereka yang terkepung. Dari misi penyerbuan, tiba-tiba berubah jadi misi bunuh diri, penjagalan.


Gunshots, tebasan pedang, bloodfest yang semangat muncrat kemana-mana, dan teknik tarung nomor wahid muncul satu persatu. Bikin kamu nggak akan peduli sama air mineral di sisi kursi atau kardus popcorn di pangkuan. Lengket aja itu bokong di kursi, sambil mata kadang ditutup kadang dibuka, at once you terrified and other time you felt so much rage that you really wanted to beat someone too.


There was too much violence here in this movie. Semoga nggak ada bocah-bocah yang nonton film ini juga. Nggak baik untuk kesehatan mata, moral dan pikiran mereka. Ini film yang benar-benar keras, benar-benar brutal, benar-benar traumatis kalau kamu nggak siap rasa.


Minim plot, minim dialog, tapi sarat aksi laga. Dan detail teknik pencak silatnya : juara! Saya sih, nggak ngerti, tapi rekan nonton saya hari ini sempat ikut salah satu jenis beladiri dan dia mengakui kalau itu, yang ditampilkan di hampir seluruh scene laga, murni jurus pencak silat kelas wahid.


Ckckck, pantes aja ada rumor beredar orang Amerika pada ngiler pengen belajar pencak silat setelah nonton film ini.


Iya, lah, koreografi laga film ini, kan, bukan sembarangan. Ada si Iko Uwais dan Yayan ‘mad dog’ Ruhayan yang memang juara pencak silat dan peraih medali tingkat internasional, juga si Gareth Huw Evans, sang sutradara. Pemainnya juga sebagian besar dari kalangan beladiri, Joe Taslim, atlit judo, si Alfred ‘preman ambon’ dia juga atlit –tapi lupa atlit cabang apa.
Jadi, setelah kurang lebih seratus menit sibuk jantungan (saya lagi pikir-pikir buat konsul ke IPD kardio besok, nih, :)), sibuk memaki-maki, sibuk buka-pejam mata ketakutan, sibuk naksir sama sersan Jaka dan sibuk sedih juga karena sersan Jaka tewas dihajar Mad Dog (ok, spoiler, i know), hehe.. i decided that itu ngantri dan tiket bioskop yang saya beli worth it!


87% di rotten tomatoes itu bukan kibulan.


Ini mungkin bukan film kelas oscar yang plot dan jalan ceritanya jenius, tapi ini jelas jenis film yang pingin kamu tonton dan merasa puas setelah itu selesai. Jenis yang akan kamu acungi jempol berkali-kali dan sibuk rekomendasikan ke teman-teman yang lain.


Pertama, karena ini film indonesia (walau disutradarai orang Wales), pemainnya dari Indonesia, beladirinya dari Indonesia, and it brings Indonesia to the world in the positive way. Yay!


Bravo The Raid! Good 4.5 of 5 stars for you.

Rabu, 03 Februari 2010

- [Movie Corners] mencari komitmen untuk sebuah kepastian hati

Judul : Shopgirl
Pemain : Steve Martin, Claire Danes, Jason Schwartzman
Genre : Romance/Drama



Cerita dalam film ini diangkat berdasarkan sebuah novella yang ditulis sendiri oleh produser dan aktor dalam film ini, Steve Martin. Bercerita tentang Maribelle, seorang pegawai di sebuah store ternama di Amrik, Saks Fifth avenue, pada departemen penjualan aksesoris sarung tangan. Selain pegawai toko, Maribelle adalah seniman. Dia hidup sendiri di sebuah apartemen sederhana dengan kucing peliharaannya. Perjalanan hidupnya mempertemukannya dengan dua pria, Jeremy dan Roy Porter. Disini Maribelle harus memilih, Jeremy yang urakan, seniman nggak jelas yang bekerja di percetakan namun menjanjikannya komitmen utuh atas cintanya. Atau seorang pengusaha mapan yang berusia jauh di atasnya, Roy Porter, yang menghadiahinya segalanya kecuali sebuah kepastian hati?
You find it a bit boring, right?
Hoho, for me, it’s not at all.
Buat aku film ini sangat ekspresif sehingga emosi dari tiap laku, raut dan suasana tuh gampang sekali tercerna. Not that easy actually. It felt like, aku merasa Maribelle adalah representasi dari kebanyakan wanita di muka bumi. Wanita yang berkutat dengan hal yang rata-rata, averafe living, average salary, average food; yang ingin memperjuangkan sesuatu, cinta, kasih sayang, sebuah komitmen hanya untuknya. Yang menjadikannya bermakna, signifikan dan luar biasa. Walau dengan keterbatasan yang ada. Aku bahkan hampir nangis saat nonton film ini. Aku merasa aku mirip Maribelle yang bingung apa itu cinta, apa itu hidup, apa itu bahagia.
Dan satu lagi, Maribelle adalah seorang observer, yang aku harap, diriku juga begitu –observer, yang mencoba mendapatkan semua jawaban lewat tiap tatapan, tiap peristiwa.
Tapi aku belum mampu seperti Maribelle, mampu mendobrak tembok kenyamanan. Terjun dalam hal yang benar-benar aku suka. Dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan hakiki lewat itu.
I’m trying, dear maribelle. Please note that. lol.

Here is the trailer of the movie.

Hope you guys –whoever read this crap, love it!
Let’s roll!!