Berdiri menantang angin, kamu bilang..
Dalam senja yang sama kala tubuh lain berlari sejalan sinar matahari yang memadam
Mereka bergerak mencari arah pulang, menanti kekasih yang menanti di ujung gerbang siap memberi tumpangan,
Bergerak pulang
Tapi aku di sini, menantang angin
Memandang mentari yang memadam
Jingga
Dan helaian kain yang membalut tubuh menghentak menyapa senja
Menyesapnya dengan syahdu
Dari ketinggian, kamu bilang...
Nikmati senja itu dengan secangkir teh yang mendingin, hangatnya perlahan hilang kala temperatur turun teratur
Dan akomodasi mata yang beradaptasi dengan cahaya yang memudar, itu keindahannya, kamu bilang...
Dan aku rindu, rindu berdiri di ketinggian ini bersamamu
Menatap titik kecil bergerak perlahan, menghiasi hidup..
of dreams | of life | about love | of bitter reality | of hopes and wishes | about you. Yes, you.
Kamis, 22 Maret 2012
Rabu, 14 Maret 2012
the birthday girl
Aku kangen Dipa. Ingin berkilah aku kangen dia sebatas sahabat yang rindu saat keduanya terpisah samudera dan benua. Tapi di satu sudut hati yang terdalam, aku tahu ini lebih dari itu.
Tahun lalu kami sempat bertemu. Tanpa janjian sebelumnya. Tepat di sini. Foodcourt Istana Plaza di depan stall mie hot plate. Menu favoritmu di sini.
Buatku, momen ulang tahun adalah momen me-time. Berkontemplasi, menyendiri, apapun itu istilahnya. Berbekal novel dan HP mini netbook kesayangan, aku nongkrong di food court salah satu pusat perbelanjaan beken di Bandung. Sepenuh hati berharap tidak bertemu atau berpapasan dengan sosok yang ku kenal. Aku malas berbasa-basi. Walaupun hari itu hari ulang tahunku. Orang-orang bilang kamu akan dilimpahi ribuan doa di hari itu. Doanya akan kuamini, sungguh. Tapi tidak untuk percakapan panjang yang menguras waktu.
Aku ingat betul halaman berapa yang sedang ku baca saat itu, dan scene apa yang tergambarkan di dalam lembaran novel, saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Woyy!” ia berseru. Suaranya maskulin. Jenis yang betah kudengarkan bercerita lama.
Suaramu, Dipa.
Kamu membawa nampan berisi dua mie hot plate pedas favoritmu. Menyodorkannya ke depanku sambil menggeser sedikit netbook yang kuabaikan.
“Happy Birthday!”
Sebelum aku sempat merespon kamu sudah berbalik lagi, kembali ke stall mie hot plate, mengambil dua gelas softdrink.
“Lain kali duduknya di sana aja, Ke..” katamu agak ngos-ngosan sambil menunjuk meja yang terletak tepat di depan stall mie hot plate. “Capek juga bolak balik kemari sambil nenteng-nenteng ginian..” kamu menunjuk ke arah dua nampan yang baru kau letakkan.
“Hah?”
Kamu menggeleng, “Ckck, makasih kek.. udah dibawain makanan begini. Harusnya aku yang ditraktir tau! Kan kamu yang lagi ulang tahun..”
“Dipa, nggak jaga?” itu satu-satunya respon tercepat yang bisa kusampaikan.
Kamu mencibir, “Ya kalau gue ada di sini berarti gue free, nonong!!”
“Terima kasih, Dipa..” senyumku sama sekali tidak artifisial. Dan aku siap untuk sebuah konversasi panjang di hari sakral itu bersama kamu. Sebagai sahabat, tentu.
Itu dulu, tahun lalu. Kamu sedang menjalani semester akhir residen sebagai Chief, tingkatan terakhir sebelum kamu menghadapi ujian terakhir program pendidikan dokter spesialis. Sebelum kamu resmi bertitel Sp. B.
Itu dulu, tahun lalu.
Sebelum kamu memutuskan menjadi volunteer bulan sabit merah ke Libya. Ikut serta sebagai tim medis di bawah perlindungan Dewan Keamanan dan WHO.
Di tengah bising lalu lalang aku membayangkan apa yang kamu hadapi tiap hari. Ancaman pecahnya bentrokan, riuh rendah demonstran yang lelah dan penuh amarah, jerit kesakitan para korban penggulingan rezim. Kamu disana, menjadi saksi sejarah runtuhnya sebuah lakon kepemimpinan yang dulu begitu diagungkan. Ya, sekarang kamu di sana.
Dipa, padahal hari ini hari ulang tahunku.
No phone call, or even simple text message.
Aku tahu egois membayangkan ia bisa mengontakku di tengah chaos seperti itu. Tapi, aku kangen kamu, Dipa. Kangen konversasi kita seperti tahun lalu.
Sekarang aku duduk di sini. Di meja yang waktu itu kamu tunjukkan. Meja favoritmu. Meja yang kita sambangi hampir sebulan sekali dalam 6 bulan terakhir. Sebelum kamu berangkat ke Libya.
Berada di sini beberapa jam lebih awal dibandingkan jam kita bertemu tahun lalu. Hari ini aku tak seberuntung tahun lalu. Selain tidak ada Dipa, hari ini aku dapat giliran shift sore.
Jadi aku hanya bisa mampir di sini menjelang tengah hari.
Tak apa, demi me-recall momen bersama Dipa tahun lalu.
Di ruang sama, hari yang sama, mie hot plate yang sama.
Dipa, di manapun kamu sekarang, ucapkan selamat ulang tahun untukku. Seperti tahun lalu.
Senin, 27 Februari 2012
it hits me to the core..
jangan membenci dengan terburu-buru, aku takut ada rindu yang tertinggal.
Via @gagalmanSelasa, 31 Januari 2012
Senin, 30 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
when you run
So when you find early morning always has songs to play..
Play them while you run..
While you exhale the most natural particles that make you alive..
Just you,calm morning, those songs and run..
Play them while you run..
While you exhale the most natural particles that make you alive..
Just you,calm morning, those songs and run..
my favorite running path
Minggu, 22 Januari 2012
for every ...
For every tick tock of the clock...
They are ticking steadily. Sometimes unheard. Sometimes weak. But they move still. And that tiny pointer loyally rounds the circle. Time to time.
For every color that splashes the days...
White in the sky. Blue ocean. Black dirt. Green leaves. Maroon wall in the outskirt of my house. Mom’s fuchsia shirt. Dad’s faded grey T-shirt. First brother’s orange shorts. Second brother’s yellow sarong. Purple blouse of mine. His faded black bagpack. Your brown eyes.
For every sound that goes along...
Favorite songs. Noisy traffic jam. Morning whistle. Lullaby. Adzan. Beautiful tilawah. Mom’s prays. Brother’s jokes. Bestfriends’ babblings. Bestfriends’ laughs. Babies’ cries. Our noisy banter. His call. Your unheard smile.
For every ‘i’ve been through this’...
And all those days that were taken.
And all those tears that makes me stronger.
All those laughs that makes me smile.
All those sincere gestures that make me trust.
That hopes are exist.
For every ‘i know how it feels like’...
And all those stories, told or just kept on papers. You would know when to open up and silence the mind. Know when to offer the shoulder for others. And know when to ask one when you need it the most.
For every glimpse of past that made me who i am right now...
I still remember the yellings. Sometimes it frightened me how it affects myself till now. Still carry the insecurities that has been planted in me long ago. I wish it would vanish. but i believe they exist for good reason. To make me change. To make me see greater details. To make me see you in different views.
For goals i’ve yet to achieve...
God supply time and chances here, there and everywhere. Sometimes that confidence was thrown out of grasp, and i begin to lose hope. But i know each has powers. Certain things may never be realized. But i wish i could always hold on to the right fingers. Your fingers.
For fabulous and amazing 23 years of life...
Rabb, i bow to my lowest state.. and could only whisper softly, sincerely, thank you.. thank you.. thank you.. and honest apologize.
Thank you.
Langganan:
Postingan (Atom)



