Rabu, 10 Agustus 2011

whisper on the go..

on the way back..
I wishper quietly to the wind, sun and small river..
to the trees, farm and lush green in the wild..

i whisper them through the glass window..

please, don't change..

and stay that way..

Sabtu, 06 Agustus 2011

di Ramadhan ini..

Kalau ditanya apa yang berbeda dalam ramadhan kali ini, saya akan jawab : banyak.

This is my first Ramadhan away from home.

Jauh di Bandung sementara keluarga hampir seluruhnya berada di Cirebon. Sahur dengan menu terbatas dan mungkin itu-itu aja (so far mengingat di awal ramadhan minim penjual makanan untuk sahur).

Waktu masih kerja di Cirebon dulu, saya mungkin beberapa kali nggak sahur bareng keluarga di rumah. Tapi itu cuma satu atau dua hari. Dan kalaupun iya saya sahur/buka puasa di luar, kadang ibu 'maksa' saya bawa bekal supaya saya nggak repot jajan di luar.
Saya dulu memang rada baong, walopun sudah diberi bekal tetap jajan di luar.
Tanpa menyadari kalau setelah jauh begini saya kangen semua itu. Tarawih dikelilingi wajah-wajah familiar yang sudah ada sejak kita bayi. Buka puasa dan sahur bareng keluarga, dengan masakan khas ibu dan Uwak-bibi yang emang jago masak. Mendengarkan celotehan adek bungsu yang pingin ikutan sahur tapi ngedumel kalo dibangunin jam tiga.
Saya kangen itu semua.

Setelah jauh, seseorang memang baru menyadari berjuta hal yang ia tinggalkan.

Tapi bukan Ramadhan bila hanya digunakan untuk nelangsa karena keadaan rantau yang bikin keki.
Ada berjuta ibadah dengan berkali-kali lipat pahala yang sedang di-sale di bulan baik ini. Ada satu malam yang dilelang bagi siapapun yang cukup beruntung hingga bisa mendapat keistimewaan seribu bulan.

Ramadhan memang ngangenin. Dimanapun saya sekarang. Walau doa yang kian memendek dalam rutinitas tarawih di tempat yang baru, walau harus dihujani ujian emosi di tempat kerja, walau kadang ada ketidaksukaan menjalar dalam hati, walau irama tadarus hanya samar terdengar.

Ramadhan ini tetap berarti.

Kamis, 04 Agustus 2011

live well, Neng..


Yesterday the youngest patient in my oncology ward was sent home. She was just 13 years-old. She first was suspected having malignant ovarian tumor and scheduled for surgical treatment. Her surgery went well. Though she didn't recover that fast.
After a week we got the result of her frozen section from pathology anatomy. And it was 4th stadium of ovarian cancer.
After an incomplete surgical treatment, doctors decided that she would have chemotherapy.
Then chemotherapy she had.
It was five long and tiring days of chemotherapy. Plus almost a month long for pre and post surgery care.
She was like our little unlucky sister.

Her smile was huge at last time when she and i passed at hospital corridor. Her family greeted and thanked me for helping and caring their daughter.
Pure, joyous smile. Full of hope of having a good life in the future.
A smile that put a shame on me. I was thinking that while she fighted hard to just stay alive with all those malignancy that eat her body, i --in the good state of health-- sometimes complain and worry to silly things.

Whether my job is good enough. Whether my salary is high enough. Whether i'm good enough so that old-look bodypack owner would find me attractive.
Those things.

Which i found less alive compared to her struggle for life. I seemed ungrateful to what God has given to me.

So, Neng, keep smiling sweetheart. And stay alive. Be strong.

Live well.

Sabtu, 25 Juni 2011

wake me, if you're out there..

kapan?
Kapan aku bisa terbangun dari mimpi ini..

Tirai di balik pintu geser yang terbuka terangkat terbuai angin. Satu-satunya gerakan yang tidak konstan di kamar ini. Sementara aku hanya mampu duduk terdiam, atau boneka lightning mcQueen yang solid bisu; tirai itu malah asyik berkibar dengan gerak acak.
Kanan, atas, bawah, kiri, atas.

Keheningan ini memilukan.
Seperti mimpi dengan aura abu-abu. Menggemakan penantian bisu dan perasaan sia-sia terhadap suatu harapan.

Cinta, sudah berapa lama kamu pergi..

Kalau memang ini mimpi. Sebuah mimpi yang tak menyenangkan, tentu saja. Tolong, bila kau telah kembali, buat aku terjaga. Sebuah kecupan seperti puteri salju, atau genggaman hangat menenangkan.
Apapun untuk mengusik keheningan memuakkan yang begitu membelenggu.

Cinta, sudah berapa lama kamu pergi..

Aku tak pernah menutup pintu itu. Walau tirainya berkibar menggoda. Membiarkan dingin mengalir masuk ke sini. Ke jiwaku. Tak akan pernah ku tutup bila kau tak juga kembali.

Cinta, mereka bilang kamu berkilo-kilometer jauhnya.

Kadang di satu dua detik yang berharga, kala keheningan mimpi itu memudar, aku begitu optimis beribu tahun kecepatan cahaya pun bisa kau lampaui.
Tapi saat hening mimpi begitu mencengkeram, aku yang ragu dan rapuh tak mampu percaya kau akan kembali.

Kau dekat, mereka bilang.

Cinta, tapi di hening mimpi ini kau tak tergapai.

Cinta, apakah bila ku terjaga kau akan serta merta berada di sini? di tempat di sisiku yang memang seharusnya untukmu.
Bila ya, aku mau kau buatku terjaga.

Cinta, bangunkan aku dari hening mimpi ini di suatu masa kala kau kembali.

Suatu hari nanti.


-to a name that matters

Selasa, 14 Juni 2011

damba

gaun tidurnya berkibar. Gaun kelabu berbahan kain yang ringan, halus. Ia tak pernah berdamai dengan angin malam yang berhembus. Tak pernah.
Tapi langkah Kania tegas. Ia tak mempedulikan protes keras dari sang gaun yang berteriak tak nyaman di sela hembusan angin.
Angin malam yang selalu menyambutnya di tepian balkon. Merayu tirai agar melambai gemulai. Menciptakan efek dramatis di pintu batas kamar Kania.
Kania tak peduli. Ia tak membutuhkan itu.
Kania butuh tamparan dingin dan tak nyamannya angin malam. Mengingatkan bahwa seperti bekunya malam ini, dalam suhu yang membekukan itu pulalah hatinya.
Sendiri. Terancam jatuh dan menjadi kepingan berserak.
Dingin yang merayap saat Surya-nya pergi. Sumber kehangatan di hati Kania. Dia pergi. Lama. Dan Kania mulai takut rasa di hatinya yang begitu lama mendingin ini jadi nekrotik.
Ia mulai mendamba. Sebuah perasaan yang hangat dan menghidupkan seperti dulu.
Ia butuh 'Surya' baru.

damba

gaun tidurnya berkibar. Gaun kelabu berbahan kain yang ringan, halus. Ia tak pernah berdamai dengan angin malam yang berhembus. Tak pernah.
Tapi langkah Kania tegas. Ia tak mempedulikan protes keras dari sang gaun yang berteriak tak nyaman di sela hembusan angin.
Angin malam yang selalu menyambutnya di tepian balkon. Merayu tirai agar melambai gemulai. Menciptakan efek dramatis di pintu batas kamar Kania.
Kania tak peduli. Ia tak membutuhkan itu.
Kania butuh tamparan dingin dan tak nyamannya angin malam. Mengingatkan bahwa seperti bekunya malam ini, dalam suhu yang membekukan itu pulalah hatinya.
Sendiri. Terancam jatuh dan menjadi kepingan berserak.
Dingin yang merayap saat Surya-nya pergi. Sumber kehangatan di hati Kania. Dia pergi. Lama. Dan Kania mulai takut rasa di hatinya yang begitu lama mendingin ini jadi nekrotik.
Ia mulai mendamba. Sebuah perasaan yang hangat dan menghidupkan seperti dulu.
Ia butuh 'Surya' baru.

Kamis, 12 Mei 2011

to a name that matters

i need to calm my nerves and this whole feeling to the neutral position before you show up and affect my day..
So, hush hush, get lost!!