of dreams | of life | about love | of bitter reality | of hopes and wishes | about you. Yes, you.
Jumat, 22 April 2011
to a name that matters
Minggu, 17 April 2011
empty
- putus dari pacar
- jauh dari keluarga
- dimusuhin sahabat
- other kind of causes Buat saya kekosongan itu nggak terdefinisikan.. Seperti halnya kekosongan itu sendiri berarti hampa, kebas.
I feel it today. I feel empty.
Seperti semua rasa collided jadi satu dan akhirnya karena tumbukan itu mereka terurai runtuh. Jatuh. Dan menyisakan kekosongan..
kind of.. disturbing feeling because my roommie's bad habit that i dislike so much,, annoying residents yang doyan nyuruh-nyuruh tanpa tedeng aling-aling.. Ada sedikit senang juga karena sempet ngelihat teddy bear, or this longing for someone yang nggak tersampaikan..
Ya, it is all collided and left emptiness remains.. What empty means for you..
Sabtu, 02 April 2011
saturday night and how i miss home..
Even when i got sick for more than six months. They were there.
Once or twice they were sometimes doubt. But they never told me that.
But i hope, in a land where i stand right now will become their answer for what they have trusted to their very own only daughter.
Wish i could be home right now and say : Thank You.
Kamis, 31 Maret 2011
aku ingin bercerita tentang laut
Sengatan matahari yang menembus kulit, memerangkap hangat, melumerkan air mata
Lembut pasir membenamkan mata kaki, membekukan langkah, memaksa memori berkelana
Debur yang bergulung saling kejar meraih diri, mengajak tenggelam dalam luas perih
Atau angin yang mengangkasakan pilu, membuatnya mengawang mengelilingi diri, sekali lagi memutar segala memori
Bahwa aku kehilangan kamu
Dan memori itu, seperti laut ini, tak akan segan untuk membunuh
...
Senin, 14 Maret 2011
Untitled
Jumat, 25 Februari 2011
it was enchanting to meet you
don't be in love with someone else..
please,
don't have somebody waiting on you..
i was enchanted to meet you..
*enchanted-taylor swift
Selasa, 22 Februari 2011
at-a-glance fics #1
--
Karenina nggak pernah bisa benar-benar menyukai mocca. Dalam berbagai
bentuk : cairan, krim dalam roti atau sandwich, atau apapun. Rasanya
lengket, berminyak dan terkadang kepalang manis.
Lidah Nina -biasa Karenina disapa- sepertinya terlanjur mengenali
mocca sebagai antigen. Ada saja gejala ketidaknyamanan tubuh saat Nina
harus berurusan dengan mocca, terutama bila harus mengonsumsinya.
Namun entah karena menyengatnya Bandung yang jarang terjadi. Atau
mungkin karena cuilan-cuilan frustasi yang menderanya belakangan. Atau
mungkin juga sekedar dahaga, nina menenggak mocca dari cangkir
Jessica, sahabat sekaligus rekan kerjanya, saat mereka ngaso sebentar
di Coffee Pot & Snacks sore itu. Minus mual-mual yang biasanya
mengiringi begitu indera pengecap Nina bersentuhan dengan rasa mocca.
Jessi hanya mampu memandang Nina tanpa berkedip. Ikut-ikutan shock.
"You okay?" tanya Jessi takut-takut, setengah tangannya terulur. Siap
meraih bila Nina tiba-tiba jatuh pingsan --efek paling ekstrem dalam
sejarahnya bersama mocca.
"Perfect!" suara Nina melengking tak wajar. Sesaat ia membasahi bibir
dengan lidah, menghilangkan jejak mocca yang tertinggal di sana.
Pandangannya tak fokus pada Jessi. Ia menatap ruang kosong di seberang
jendela kaca besar Coffee Pot and Snacks.
"Nin.." Jessi mengulang, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa
sahabatnya masih waras setelah aksi-tenggak-moccanya tadi.
Hening.
Seperti merasakan sesuatu yang buruk bakal terjadi, Jessi mendadak
memiliki dorongan besar untuk menarik Nina keluar dari Coffee Pot.
Namun terlambat. Nina lebih dulu meledak.
"I was trying to fix things between us, Jess.." bisik Nina lirih,
masih tanpa menatap sahabatnya.
Sebelah alis Jessi terangkat, sepertinya guncangan akibat peristiwa
beberapa jam yang lalu masih mendera Nina.
"You did the right thing, Nin.."
"I was trying to apologize, Jess.."
Jessica mengangguk cepat, "you showed it right, dear. Trust me!"
"Kalau apa yang aku lakukan tepat, kenapa dia cuma memandang skeptis
aku dan ngerespon: You've hurt me!!?" Nina setengah berteriak di sana,
membuahkan tatapan aneh sekaligus penasaran dari pengunjung lain.
Dua pelayan masing-masing dari pintu dapur dan belakang konter
pemesanan bersiap mengangkat apron kalau-kalau ada pertikaian terjadi.
Kali ini pandangan Karenina kembali ke wajah Jessi, menatapnya sendu.
Seperti memohon jawaban, pengampunan.
"He hates me, Jess.. A lot!"
-