Kamis, 31 Maret 2011

aku ingin bercerita tentang laut

aku membayangkan laut adalah media untuk melukis segala imajinasi tentang perasaan kehilangan
Sengatan matahari yang menembus kulit, memerangkap hangat, melumerkan air mata
Lembut pasir membenamkan mata kaki, membekukan langkah, memaksa memori berkelana
Debur yang bergulung saling kejar meraih diri, mengajak tenggelam dalam luas perih
Atau angin yang mengangkasakan pilu, membuatnya mengawang mengelilingi diri, sekali lagi memutar segala memori
Bahwa aku kehilangan kamu
Dan memori itu, seperti laut ini, tak akan segan untuk membunuh
...

Senin, 14 Maret 2011

Untitled

...sementara pada jeda yang kau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah.. Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin itu telah haram bagimu.

Galaksi Kinanthi, virgo:2.

Jumat, 25 Februari 2011

it was enchanting to meet you

please,
don't be in love with someone else..

please,
don't have somebody waiting on you..

i was enchanted to meet you..


*enchanted-taylor swift

Selasa, 22 Februari 2011

at-a-glance fics #1

prompt : mocca

--
Karenina nggak pernah bisa benar-benar menyukai mocca. Dalam berbagai
bentuk : cairan, krim dalam roti atau sandwich, atau apapun. Rasanya
lengket, berminyak dan terkadang kepalang manis.
Lidah Nina -biasa Karenina disapa- sepertinya terlanjur mengenali
mocca sebagai antigen. Ada saja gejala ketidaknyamanan tubuh saat Nina
harus berurusan dengan mocca, terutama bila harus mengonsumsinya.
Namun entah karena menyengatnya Bandung yang jarang terjadi. Atau
mungkin karena cuilan-cuilan frustasi yang menderanya belakangan. Atau
mungkin juga sekedar dahaga, nina menenggak mocca dari cangkir
Jessica, sahabat sekaligus rekan kerjanya, saat mereka ngaso sebentar
di Coffee Pot & Snacks sore itu. Minus mual-mual yang biasanya
mengiringi begitu indera pengecap Nina bersentuhan dengan rasa mocca.
Jessi hanya mampu memandang Nina tanpa berkedip. Ikut-ikutan shock.
"You okay?" tanya Jessi takut-takut, setengah tangannya terulur. Siap
meraih bila Nina tiba-tiba jatuh pingsan --efek paling ekstrem dalam
sejarahnya bersama mocca.
"Perfect!" suara Nina melengking tak wajar. Sesaat ia membasahi bibir
dengan lidah, menghilangkan jejak mocca yang tertinggal di sana.
Pandangannya tak fokus pada Jessi. Ia menatap ruang kosong di seberang
jendela kaca besar Coffee Pot and Snacks.
"Nin.." Jessi mengulang, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa
sahabatnya masih waras setelah aksi-tenggak-moccanya tadi.
Hening.
Seperti merasakan sesuatu yang buruk bakal terjadi, Jessi mendadak
memiliki dorongan besar untuk menarik Nina keluar dari Coffee Pot.
Namun terlambat. Nina lebih dulu meledak.
"I was trying to fix things between us, Jess.." bisik Nina lirih,
masih tanpa menatap sahabatnya.
Sebelah alis Jessi terangkat, sepertinya guncangan akibat peristiwa
beberapa jam yang lalu masih mendera Nina.
"You did the right thing, Nin.."
"I was trying to apologize, Jess.."
Jessica mengangguk cepat, "you showed it right, dear. Trust me!"
"Kalau apa yang aku lakukan tepat, kenapa dia cuma memandang skeptis
aku dan ngerespon: You've hurt me!!?" Nina setengah berteriak di sana,
membuahkan tatapan aneh sekaligus penasaran dari pengunjung lain.
Dua pelayan masing-masing dari pintu dapur dan belakang konter
pemesanan bersiap mengangkat apron kalau-kalau ada pertikaian terjadi.
Kali ini pandangan Karenina kembali ke wajah Jessi, menatapnya sendu.
Seperti memohon jawaban, pengampunan.
"He hates me, Jess.. A lot!"
-

Sabtu, 22 Januari 2011

i think i'm getting older

a day older.
a month older.
a year older.

"time, where did you go?
why did you leave me here alone?
wait, don't go so fast.."
<chantal kreviazuk>

what it feels like of being 22?
do you feel any different, ve?
*chuckle*
secara keseluruhan : no, i don't feel any different. yet.

Saya masih jadi seorang loner. Dan berbagai sifat lain yang sudah banyak orang kenal.

Then, what it feels like of leaving 21?

Kind of unbelievable.

Usia 21 -dari kontemplasi saya ke belakang- was truly my fighting age.
21 was a tough year.
Toughest so far.
It was when life taught me many different lessons, the true-real side of it. Menghadapi egoisme orang lain, belajar sabar, mengakui kesalahan, senyum tulus, kelelahan, ragu.. Even getting my favorite novels. lol.

Dan semuanya, pengalaman masa lalu, ketidakhadiran 'dia' hari ini (dalam bentuk maya maupun nyata) bikin saya berpikir sudah saatnya berhenti menjadikan 'i' or 'me- as the center of my mindset.
it's time to put other's needs. Or appreciate their presence in our life.

Berhenti selalu membicarakan 'saya'.. mulai memikirkan rencana masa depan, buat sendiri dan adek-adek.
juga berhenti mematung menatapi masa lalu dan kemungkinan mustahil yang berputar di sekelilingnya. Try to accept that he obviously is unaware of you, ve..
admit it fully.

God, bless me for years ahead in Your way.
i'm still far behind my dreams. And still on the way for chasing them.
guide me and purify my will.

And finally..
Happy birthday, me..

Love,
veronia.

Sabtu, 08 Januari 2011

january..

always smiling and dancing quietly and happily when you arrive..

You know i always fall in love with you..

January, please be shine for me..

refleksi...

"atau mungkin sebenarnya cinta nggak datang terlambat. Benihnya sebenarnya sudah tertanam lama. Kita berdua pun sudah coba memupuknya. Mungkin, ia jenis benih yang tumbuh dalam waktu lama. Dan kamu enggan menunggu. Jadi saat ia berkembang dan matang, kamu malah nggak ada disini..."